Lahir di Trenggalek, Bonari melewati pendidikan formalnya di SD Negeri Cakul I, SMP Berbantuan Panggul, SPG (Sekolah Pendidikan Guru) Sore Trenggalek, lalu melanjutkan ke IKIP Surabaya (Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) sampai tahun 1987. Menulis sajak sejak SPG (sajak pertamanya dimuat Majalah Tamansiswa, Jogjakarta tahun 1981?) kemudian makin suka menulis begitu berada di antara para dosen ’provokatif’ (Pak Payapo, Pak Suripan, Bu Yoharni Haryono –bagi saya mereka tak pernah mati). Lulus dari IKIP bergabung di Sangar Sastra Triwida, dan oleh Pak Tiwiek SA direkomendasikan untuk ndherek Pak Tamsir AS ngembani Tabloid Jawa Anyar (di Solo –1992 – 1994?) yang ternyata tak berusia panjang. Lalu boyong lagi ke Surabaya, bergabung dengan JPNN (Jawa Pos News Network -1996) kemudian ikut meredakturi Tabloid x-file sampai tahun 2004?. Setelah beberapa kali pindah majikan, kini bergabung dengan Berita Indonesia Co.Ltd yang menerbitkan koran Berita Indonesia, Tabloid Intermezo, dan Majalah Peduli (semua beredar di kalangan TKI Hong Kong). Menulis dengan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia, berupa puisi (jarang banget sih), cerpen, esai, danlaporan yang ia tulis dengan gaya seenak udelnya (hehe, pe-de banget nih, ye?). Telh terbit tiga 2 buku kumcernya: Cinta Merah Jambu (JP-BOOKS, Surabaya 2005), Semar Super (Alfina, Surabaya 2006), dan buku cerita agak panjang untuk disebut sebagai cerpen: Mimpi dan Badai (Logung Pustaka, Jogjakarta 2006). Pernah mampir di Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Timur, kini (masa jabatannya hampir habis) sebagai Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS).