Surabaya | Surya Online - Forum Budaya Buruh Migran Indonesia (FBBMI) bekerja sama dengan Dewan Kesenian Ponorogo (DKP) dan Disnaker Ponorogo menggelar kegiatan pembacaan cerita pendek (Cerpen) karya buruh migran Indonesia di Hongkong.
Bonari Nabonenar, salah seorang penggerak sastra buruh migran, menjelaskan, kegiatan yang digelar 15 Januari 2008 di Kantor Disnaker Ponorogo itu juga diramaikan dengan bedah buku karya buruh migran Indonesia.
"Cerpen-cerpen yang dibacakan adalah karya Mei Suwartini, mantan buruh migran dan Tanti yang sekarang masih bekerja di Hongkong. Keduanya berasal dari Ponorogo. Buku kumpulan cerpen yang dibedah adalah karya Tanti berjudul Surat Buat Kang Narto," katanya di Surabaya, Rabu (9/1).
Bedah buku akan menampilkan pembicara Sutedjo MHum, penulis yang juga kandidat doktor sastra di Unesa dengan dipandu Wahidin Ronowijoyo (Ketua DKP). Pada kesempatan itu, Tanti juga akan "hadir" lewat suaranya yang direkam disertai pembacaan salah satu cerpennya.
Selain itu, kegiatan tersebut juga diramaikan dengan pameran ratusan foto bertema, "Hongkong dan TKI Kita". Foto-foto tersebut merupakan karya dari para buruh migran Hongkong yang mengabadikan berbagai peristiwa dan lokasi di tempatnya bekerja.
FBBMI sendiri menurut Bonari, didirikan oleh sejumlah buruh migran Indonesia yang bekerja di Hongkong pada 17 Oktober 2007 lalu di Trenggalek, Jatim bersamaan dengan kegiatan dengan diskusi bertema, "Orang Kampung dan Globalisasi".
Menurut dia, FBBMI menjadi wadah untuk memfasilitasi para buruh yang mengambil cuti dan hendak menggelar pentas seni atau kegiatan budaya lainnya di Indonesia. Forum itu, juga akan menjadi wadah konsultasi buruh migran yang hendak menerbitkan buku.
"Kebetulan Wina Karnie juga menjadi Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Hongkong, yang merupakan organisasi para penulis," kata Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) itu.
Menurut dia, forum itu dibentuk karena selama ini lembaga pembelaan atau advokasi kaum buruh migram sudah banyak berdiri, sedangkan untuk menjembatani kegiatan budaya bagi mereka belum pernah ada, khususnya ketika mereka berada di Tanah Air. ant
SURYA, 9 Jan 2008
SEORANG PEJABAT DI LOKASI BANJIR
Banjir bandang Di mana-mana banjir bandang Oo, ada pejabat datang Buru-buru bilang:
"Kalau banjir tinggal naik perahu."
Oo, jadi begitu, ya? Maka... Kalau longsor tinggal berlari kalau lapar tinggal puasa kalau tak punya uang tinggal korupsi kalau tak punya jabatan untuk korup tinggal nyopet atau ngutil kalau takut tinggal sembunyi kalau gak kuat hadapi kenyataan tingggal bermimpi
[sungguh indah negri ini negri yang ramah dengan bencana siapa bilang susah hidup di indonesia pasti ia belum tahu rahasianya]
kalau gak berani menghadapi hidup tinggal mati kalau susah tinggal baca puisi judulnya ini: "jan ora duwe udel tenan"
28 des 2007 KANGEN (2)
ing poncoting sepisepiku kembang mekar ing pucuk pucuke grimis landhepe mingis mingis ing poncoting sepisepiku aku kangen wangine tatu
1992
DHUHKITAKU
dhuhkitaku ginurit ing kembang mlathi ing wengi grimis mekar dadi tatu tumemplek ing tembok tembok impen dhuhkitaku dadi tembang ngalikalik kentir ing angin giniring saka walike cakrawala dhuhkitaku dadi rupane candhikala nglunturi subuh kebak panjangka
desember 1994
 | cendhela | Dec 27, '07 10:15 AM for everyone |
CENDHELA
saka bolongan tatu ing atiku katon lintanglintang kumrelip ing langit bening ana manuk iber mencok soroting wengi njut aku gawe pigura kanggo bolongan ing atiku
26 februari 1990
AJI TRESNA
sun mateg aji ajiku aji tresna bobote pitung gunung
ibu bumi bapa angkasa lilanana putramu ngebur samodra ngupadi jatining tirta
ing angkasa bocah bajang nggiring angin pecute sada lanang saka dayane tresna kejeme ngungkuli angkara
ing samodra tumumpang jumlegure ombak swaraku ngundang paraning sedyaku
aku gulungkoming saka dayaning aji tresnaku
januari, 1995 spm, 12 maret 95
 | ANGIN | Dec 27, '07 6:49 AM for everyone |
ANGIN
alangkah sejuk rasa angin yang kautitipkan padaku malam ini mengental semangatku seperti difirasatkan mimpi malam kemarin
alangkah sejuk rasa angin yang kauembuskan padaku malam ini kutimang dan kupeluk di dalam sepi mengental rinduku mencair di dalam mimpi malam ini biar makin sejuk rasa angin yang kaukirimkan padaku biar makin mabuk aku merindu wangimu di dalam sepi sepi mimpi mimpi
28 nov 1990
 | HUJAN | Dec 27, '07 6:47 AM for everyone |
HUJAN
selalu saja hujan mengingatkan pada musik dan lukisan seperti sekarang hujan membasah ranting-ranting pepohonan seperti hujan putih jiwaku terjatuh di tanah mengeruh selalu saja seperti aku seperti hujan musik dan lukisan
5 februari 1990
 | monumen | Dec 27, '07 6:44 AM for everyone |
MONUMEN
kemudian waktu kita beri nama kita beri tanda dengan kata-kata dengan angka-angka sedang makna agaknya masih terjauh dari mimpimimpi kita
dan di bawah bulan yang tua mimpimimpi kita terjatuh menimpa bumi yang renta menimpa anakcucu kita
kemudian waktu mereka beri nama mereka beri tanda dengan apa! mudahmudahan mereka tak lagi sempat mimpi
--sedang untuk membangun monumen ruang habis sudah
januari 1990  | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Budi Darma |
Ini buku terbaru Pak Budi Darma, sastrawan Indonesia yang jadi salah seorang juri Pena Kencana yang antara lain memilih "Bukan Yem"-nya Etik Juwita sebagai salah satu dari 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008.
"Bahasa, Sastra, dan Budi Darma," begitu judulnya. Pengin punya? Tinggal pesen secepatnya, boleh melalui saya, dan --khusus buat kawan-kawan di HK-- siapkan HKD 50 untuk 1 buku.   Di dalam tulisan-tulisannya, perempuan kelahiran Bojonegoro 10 Agustus 1962 ini biasa memakai nama Wina Bojonegoro. Endang Winarti (itu nama KTP-nya) bekerja sebagai: Sekretaris di PT. TELKOM Surabaya. Alamat kantor: Jl. Ketintang 156 Surabaya 60231. Karya yg pernah Dimuat: [1] Orang-orang tersayang, Pertiwi,1988 [2] Takdir, Surabaya Post, 1988, [3] Surat, Jawa Pos, 1999, [4] Namaku Giri, Surabaya Post, 2001, [5] Miss Markonah, Jawa Pos, 2003, [4] Arimbi Vs Basuki, Jawa Pos, 2002, [5] Musim Semi di Yunani, Jawa Pos, 2002, [6] Perempuan Yang Menanti, Jawa Pos, 2001, [7] Perjalanan Terakhir, Jawa Pos, 2004, Buku: Kumpulan Cerpen : Episode Surat Kejantanan ( Logung Pustaka, 2005 ) Lain-lain : [1] Editor WEB Internal TELKOM, [2] Akstris terbaik Lomba Drama Lima Kota (LDLK) 1988, [3] Pendiri Sekolah ketrampilan “PUTRI KINASIH “
email: wina108@plasa.com
 Agus Hadi Sudjiwo (Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962) atau lebih dikenal dengan nama Sudjiwo Tedjo adalah seorang budayawan Indonesia. Ia adalah lulusan dari ITB. Sempat menjadi wartawan di harian Kompas selama 8 tahun lalu berubah arah menjadi seorang penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang. Selain itu ia juga sempat menjadi sutradara dan bermain dalam beberapa film seperti Janji Joni dan Detik Terakhir. Selain itu dia juga tampil dalam drama teatrikal KabaretJo yang berarti "Ketawa Bareng Tejo". Dalam aksinya sebagai dalang, dia suka melanggar berbagai pakem seperti Rahwana dibuatnya jadi baik, Pandawa dibikinnya tidak selalu benar dan sebagainya. Ia sering menghindari pola hitam putih dalam pagelarannya. [wikipedia] Nama aslinya Herlina Tien Suhesti; lahir di Ngawi, 26 April 1982) adalah seorang sastrawan asal Indonesia, meski dia lebih nyaman disebut penulis. Novel pertamanya Garis Tepi Seorang Lesbian menjadi bestseller yang membantu membuka jalan baginya untuk menerbitkan novel-novel selanjutnya. Saat ini dia aktif membangun sanggar kalian yang memberikan dukungan pada anak-anak. Saat ini tinggal di Yogyakarta. Beberapa bukunya yang telah terbit: Garis Tepi Seorang Lesbian (2003), Dejavu, Sayap yang Pecah (2004), Jilbab Britney Spears (2004), Sajak Cinta Yang Pertama (2005), Malam Untuk Soe Hok Gie (2005), Rebonding (2005), Broken Heart, Psikopop Teen Guide (2005), Koella, Bersamamu dan Terluka (2006), Sebuah Cinta yang Menangis (2006). Selebihnya, lihat http://herlinatiens.wordpress.com/ [wikipedia]  Prof. Dr. Budi Darma, M.A.lahir tanggal 25 April 1937 di Rembang, Jawa Tengah. Ia anak keempat dari enam bersaudara yang semuanya laki-laki. Kedua orang tuanya berasal dari Rembang. Ayahnya bernama Munandar Darmowidagdo dan bekerja sebagai pegawai kantor pos. Ibunya bernama Sri Kunmaryati. Karena pekerjaan ayahnya, Budi darma sering berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti orang tuanya, antara lain di bandung, Yogyakarta, dan Semarang. Budi Darma menikah pada tanggal 14 Maret 1968 dengan Sitaresmi, S.H., yang lahir 7 September 1938. Dari pernikahannya itu, mereka dikaruniai tiga orang anak, yaitu Diana (lahir di Banyuwangi, 15 Mei 1969), Guritno (lahir di Banyuwangi, 4 Februari 1972), dan Hannato Widodo (lahir di Surabaya, 3 Juni 1974). Budi Darma menempuh pendidikan di berbagai kota. Pendidikan sekolah dasar diselesaikannya tahun 1950 di Kudus, Jawa Tengah. Sekolah menengah pertama diselesaikannya tahun 1953 di Salatiga, Jawa Tengah. Kemudian, pendidikan sekolah menengah atas (SMA) diselesaikannya di Semarang tahun 1956. Setamat SMA, Budi Darma meneruskan kuliah di Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, dan selesai tahun 1963. Judul skripsinya adalh Tragic Heroes in The Plays of Marlowe. Selama satu tahun (1967) ia mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat. Pada tahun 1970---1971 ia mendapat beasiswa dari East West Centre untuk belajar ilmu budaya dasar (basic humanities) di Universitas Hawai, Honolulu, Amerika Serikat. Pada tahun 1975 meraih gelar M.A. dari Universitas Indiana, Bloomington, Indiana, Amerika Serikat, yang judul tesisnya adalah Tha Death and The Alive, dan tahun 1980 di universitas yang sama ia meraih gelar Ph.D. dengan judul disertasinya Character and Moral Jugment in Jane Austin’s Novel. Setelah tamat dari Jurusan Satra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, (1963) sampai sekarang, Budi Darma mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) (dahulu IKIP Surabaya). Selain sebagai dosen, Budi Darma juga pernah menjabat Ketua Jurusan Sastra Inggris (1966—1970 dan 1980—1984), Dekan Fakultas Keguruan Sastra dan Seni (1963—1966 dan 1970—1974), dan Rektor IKIP Surabaya (1984—1988). Tahun 1980 ia menjadi visiting associate research di Universitas Indiana. Budi Darma tercatat sebagai anggota Modern Language Association (MLA), New York (1977—1990). Nama Budi Darma tercatat dalam buku Who’s Who in The World (1982—1983). Sumbangan Budi Darma kepada kehidupan sastra sangat besar. Dalam kerangka kerja sama Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera), Budi Darma membimbing cerpenis dan esais muda berbakat dari Brunai Darussalam, Indonesia, dan Malaysia dalam wadah Program Penulisan Mastera (1998—1999). Budi Darma juga terlibat dalam pembimbingan berbagai lokakarya dan penataran sastra bagi pegawai Pusat Bahasa dan dosen muda dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. Hasil karya Budi Darma berbentuk cerita pendek, novel, esai, dan puisi yang tersebar di berbagai media massa, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Budi Darma dianggap memelopori penggunaan teknik kolase, yaitu teknik penempelan potongan iklan bioskop dan tiket pertunjukan dalam karya-karyanya, seperti Orang-Orang Bloomington dan Olenka. Berikut ini adalah karya Budi Darma. 1. Orang-Orang Bloomington (kumpulan cerpen, 1950) 2. Ny. Talis (novel, 1983) 3. Olenka (novel, 1997) 4. Rafilus (novel, 1988) 5. Sejumlah Esai Sastra (kumpulan esai, 1984) 6. Solilokui (kumpulan esai, 1983) 7. Harmonium (kumpulan esai, 1996) 8. Derabat (cerpen, 1999) 9. The Legacy karya Intsi V. Himanyunga (terjemahan, 1996) 10. Sejarah 10 November 1945 (1987) 11. Culture in Surabaya (1992) 12. Modern Literature of ASEAN (2000) 13. Kumpulan Esai Sastra ASEAN (Asean Committee on Culture and Information) Beberapa karya Budi Darma yang berbentuk cerita pendek pernah ditransformasikan dalam bentuk drama, yaitu “Orez”, yang dipentaskan mahasiswa ISI Yogyakarta, dan “Kritikus Adinan”, yang dipentaskan mahasiswa STSI Bandung). Karena peranannya dalam sastra, Budi Darma mendapat hadiah dan penghargaan dari berbagai pihak. Berikut ini hadiah/penghargaan yang diterima Budi Darma. 1. Hadiah Pertama Sayembara Mengarang Naskah Roman Dewan Kesenian Jakarta atas novelnya Olenka (1980) 2. Penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta atas novelnya, Olenka, sebagai novel terbaik (1983) 3. Penghargaan Sea Write Award dari pemerintah Thailand atas karyanya yang berjudul Orang-Orang Bloomington (1984) 4. Penghargaan Anugerah Seni dari pemerintah Indonesia (1993) 5. Penghargaan dari Kompas atas cerpennya, “Derabat”, sebagai cerpen terbaik (1999) Sumber: http://www.pusatbahasa.depdiknas.go.id/ Lahir: Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 Agama: Islam Isteri: Novia Kolopaking Pendidikan: - SD, Jombang (1965) - SMP Muhammadiyah, Yogyakarta (1968) - SMA Muhammadiyah, Yogyakarta (1971) - Pondok Pesantren Modern Gontor - FE di Fakultas Filsafat UGM (tidak tamat) Karir: - Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta (1970) - Wartawan/Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta (1973-1976) - Pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta) - Pemimpin Grup musik Kyai Kanjeng - Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media Karya Seni Teater: • Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan 'Raja' Soeharto), • Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan), • Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern), • Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern). • Santri-Santri Khidhir (1990, bersama Teater Salahudin di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta 35.000 penonton di alun-alun madiun), • Lautan Jilbab (1990, dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya dan Makassar), • Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993). • Perahu Retak (1992). Buku Puisi: • “M” Frustasi (1976), • Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978), • Sajak-Sajak Cinta (1978), • Nyanyian Gelandangan (1982), • 99 Untuk Tuhanku (1983), • Suluk Pesisiran (1989), • Lautan Jilbab (1989), • Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990), • Cahaya Maha Cahaya (1991), • Sesobek Buku Harian Indonesia (1993), • Abacadabra (1994), • Syair Amaul Husna (1994) Buku Essai: • Dari Pojok Sejarah (1985), • Sastra Yang Membebaskan (1985) • Secangkir Kopi Jon Pakir (1990), • Markesot Bertutur (1993), • Markesot Bertutur Lagi (1994), • Opini Plesetan (1996), • Gerakan Punakawan (1994), • Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996), • Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994), • Slilit Sang Kiai (1991), • Sudrun Gugat (1994), • Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995), • Bola- Bola Kultural (1996), • Budaya Tanding (1995), • Titik Nadir Demokrasi (1995), • Tuhanpun Berpuasa (1996), • Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997) • Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997) • Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997), • 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998), • Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998) • Kiai Kocar Kacir (1998) • Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (1998) • Keranjang Sampah (1998) Ikrar Husnul Khatimah (1999) • Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000), • Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000), • Menelusuri Titik Keimanan (2001), • Hikmah Puasa 1 & 2 (2001), • Segitiga Cinta (2001), • “Kitab Ketentraman” (2001), • “Trilogi Kumpulan Puisi” (2001), • “Tahajjud Cinta” (2003), • “Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun” (2003), • Folklore Madura (2005), • Puasa ya Puasa (2005), • Kerajaan Indonesia (2006, kumpulan wawancara), • Kafir Liberal (2006) • Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006) Alamat Rumah: Jalan Kadipaten Wetan K-11 Yogyakarta Alamat Kantor: Dewan Kesenian Daerah Istimewa Yogyakarta [ http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/e/emha-ainun-nadjib/index.shtml]Ia adalah kembaran Tjahjono Widijanto, lahir di Ngawi, 18 April 1969. Produktif menulis puisi dan esai di berbagai media. Juga menulis guritan (puisi berbahasa Jawa). Beberapa kali memenangi sayembara menulis, puisi-puisinya telah dibukukan, antara lain: Di Pusaran Angin (1997), Kubur Penyair (2002) dan Kitab Kelahiran (2003). Mendirikan berbagai komunitas seni budaya, seperti Studi Sastra Tanah Kapur, yang bergerak dalam wilayah seni budaya dengan aktivitas berupa kajian, penerbitan, dokumentasi, pameran, dan diskusi-diskusi kebudayaan. Ia terpilih sebagai seniman yang mendapatkan Penghargaan Gubernur Jatim 2003. Sehari-harinya juga bekerja sebagai guru di Ngawi. Nama aslinya Tamsir Arief Subagyo (Tulungagung,1936-1997). Selain dikenal sebagai sastrawan yang produktif, juga sebagai pendiri Sanggar Sastra Triwida. Pak Tamsir pernah menjadi wartawan majalah Penyebar Semangat (PS), Redaktur Tabloid Jawa Jawa Anyar berbahasa Jawa) bersama Suparto Brata, setelah mereka urung menangani Majalah Praba (juga berbahasa Jawa) yang gagal terbit karena figur yang oleh Grup Kompas ditugasi ’menyutradarai’-nya, Arswendo Atmowiloto, mendapat masalah berkaitan dengan pembreidelan Tabloid Monitor. Tamsir juga pernah menjadi Ketua Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ) Komisariat Jawa Timur. Sepanjang karir kepengarangannya di dunia sastra Jawa (1954-1996) ia telah menghasilkan tidak kurang dari 286 cerpen, 41 novel, 16 buku bacaan anak-anak, dan buku pelajaran SD-SMP. Ia mendapatkan Penghargaan Gubernur Jatim 2003. Abdul Hadi WM dilahirkan di Sumenep, Madura, Jawa Timur, 24 Juni 1948 ialah salah seorang sastrawan Indonesia. Sejak kecil ia telah menyintai puisi. Penulisannya dimatangkan terutama oleh karya-karya Amir Hamzah dan Chairil Anwar, ditambah dengan dorongan orangtua, kawan, dan gurunya. Di masa kecilnya pula ia sudah berkenalan dengan bacaan-bacaan yang berat, dengan pemikir-pemikir kelas dunia seperti Plato, Sokrates, Imam Ghazali, Rabindranath Tagore, dan Muhammad Iqbal. Ia pernah menempuh pendidikan di Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada hingga tingkat sarjana muda, lalu pindah ke studi Filsafat Barat di universitas yang sama hingga tingkat doktoral, namun tidak diselesaikannya. Ia beralih ke Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran dan dalam program studi antropologi, juga tidak tamat. Akhirnya ia justru mendapatkan kesempatan studi dan mengambil gelar doktor dari Universiti Sains Malaysia di P. Penang. Hadi juga pernah menjabat sebagai redaktur kebudayaan Harian Berita Buana dan anggota Dewan Pimpinan Harian Dewan Kesenian Jakarta. Puisi-puisinya kian lama kian kuat diwarnai oleh tasawuf Islam. Kumpulan puisinya, "Meditasi", memenangkan hadiah buku puisi terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1978. Bukunya "Hamzah Fansuri, Penyair Sufi Aceh", melukiskan kecenderungan religiusnya. Pada tahun 1992, ia menerima tawaran dari Universiti Sains Malaysia di P. Penang, untuk menjadi "ahli cipta" di Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan, di sana. Posisinya sebagai "ahli cipta" di perguruan tinggi yang berlokasi di Penang, Malaysia itu membuka peluang mengikuti program doktoral di perguruan tinggi itu dalam bidang sastra. Ia kembali ke Indonesia dengan gelar doktor, dan kini Hadi menjadi dosen di Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina. Hingga kini sudah enam kumpulan puisi yang diterbitkannya. Empat buku lainnya bukan puisi. Dengan istrinya, Tedjawati, yang menjadi pelukis, ia sering terlibat diskusi soal seni. Ia juga menyukai karya Bach, Beethoven, dan The Beatles. Kumpulan puisinya: Meditasi (1976), Laut Belum Pasang (1971), Cermin (1975), Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975) , Tergantung Pada Angin (1977), Anak Laut, Anak Angin (1983)
[Sumber: Wikipedia]
 Lahir di Sidoarjo, 12 Juni 1981. Awalnya, menulis bagi saya adalah cara pelampiasan terbaik ketika sedang tidak cocok dengan majikan atau sekedar membunuh waktu luang. Selanjutnya kebiasaan itu menjadi kesenangan tersendiri, apalagi ternyata ada media yang mau menampung coretan saya. SUARA namanya. Koran berbahasa Indonesia ini terbit di Hong Kong. Cerpennya juga dimuat media yang terbit di Indonesia Sinar Harapan dan Surya. Kini sedang berancang-ancang untuk menerbitkan buku kumpulan cerpennya, Perempuan Tak Bertuan. 
| |