bonari's posts with tag: cerpen

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag cerpen
Blog EntryBUKAN YEMDec 5, '07 11:32 AM
for everyone

Cerpen Etik Juwita*

 

’’Kau percaya? Ada kawanku yang memasukkan bayi majikannya ke dalam mesin cuci sesaat menjelang pulang kampung,’’ katanya tanpa emosi. Saya melempar pandang pada ruang gelap, menembus jendela kaca. Perempuan ini berhasil meneror saya. Sial! Bergidik saya membayangkan yang baru dikatakannya.

Udara pengap. Kendaraan kecil ini cuma  merayap. Dengan mesin mobil yang mampu mendidihkan darah yang beku, jalur pantura seperti jalan pintas menuju tempat setara neraka. Badan saya yang tertekuk sejak enam jam lalu seperti bengkok, ngilu punggung saya seperti menderita encok. Nyeri tak berani bergeming karena kesemutan mencapai tulang tembus daging. Tentu saja saya tak gegabah menyatakan ketidaksukaan saya pada ceritanya. Saya memandangnya lagi, berharap dia menyudahi terornya. Tukar pengalaman menjadi TKW mestinya ia tak perlu mengada-ada.

’’Dan aku?’’ Ia menggantung pertanyaannya, lalu diam. Memandang sekeliling. Si sopir sedang menikmati lagu Teluk Bayur sambil mengisap rokok. Si kernet sedang tidur, kepalanya tengadah bertumpu pada koper-koper kami yang menjulang dengan mulut menganga. Lima perempuan lain sedang tindih-menindih, beradu pundak terlelap juga. Wajah mereka sama, pucat seperti mayat. Ekspresi yang tampak pun sama, lelah. Mungkin karena usai kerja di luar negeri dan sekarang balas dendam dengan tidur sepanjang perjalanan. Saya tidak begitu, ia juga tidak seperti mereka. Tinggal saya, ia, dan sopir yang terjaga. Ia memandang saya, saya mengamatinya. Tiba-tiba saya merasa tak nyaman terjaga. Padahal saya paling tidak bisa tertidur ketika berada dalam kendaraan. Lewat cahaya yang menerobos dari mobil yang melintas dari arah berlawanan, saya melihat sinar matanya berapi-api, memanggang daging saya.

       Ia merapatkan bibirnya pada telinga saya hingga mampu saya cium bau mulutnya yang seperti aroma got mampet, karena terlalu lama terkatup. Napasnya menderu hangat menyapu pipi kiri saya. ’’Aku mencampur susu anak majikanku dengan racun tikus,’’ katanya.

***

Jika tahu akan separah ini perjalanan yang harus saya lalui, saya pasti minta dijemput saja oleh keluarga.  Mestinya saya minta majikan saya untuk membelikan tiket langsung dari Singapura ke Surabaya. Dengan begitu saya pasti sudah sampai di Blitar, kampung saya. Tidak perlu melewati Jakarta. Tidak perlu singgah di Terminal 3, lalu menggunakan jasa travel yang seperti gerobak pengangkut sampah begini dan bertemu dengan perempuan ini.  Harusnya saya menolak usulan majikan saya untuk mengantar Mbak Karti, wanita yang dua tahun menjadi kawan saya bekerja, sampai  rumahnya di Banyumas. ’’Pastikan ia tak mengalami suatu yang buruk selama dalam perjalanan,’’ kata majikan saya waktu itu.

Masalahnya, saat ini justru saya yang mengalami siksaan. Sementara Mbak Karti yang dirisaukan majikan saya malah mendengkur tertidur dengan tubuh melengkung seperti trenggiling.

Udara tambah pengap. Sengaja saya sibakkan kaca jendela berharap udara dari luar akan melegakan napas. Sial! Pasir-pasir lembut menghambur ke wajah saya, ketika truk dengan bak belakang yang berbunyi gluduk-gluduk melintas. Saya tutup kembali kaca jendela dengan kasar. Bau bacin dari bangkai ikan asin di pinggiran tambak tersekap dalam udara pengap.  Dan, wanita itu, yang sudah berpindah dari sisi kiri saya, duduk persis di depan saya. Rupanya ia memerhatikan kelakuan saya. Ia tersenyum tipis, sinis.

’’Cuma aku dan kamu yang belum tidur,’’ katanya.

’’Saya tidak mengantuk. Mbak tidurlah.’’ Saya benar-benar ingin ia tidur.

’’Aku juga tidak mengantuk. Kau ingin dengar ceritaku yang lain?’’

      O, mungkin kali ini ia akan mengatakan sesuatu yang lebih tak manusiawi. Diam-diam saya berpikir orang di depan saya ini umurnya mungkin mendekati empat puluh. Pipinya mulai kempot, bergigi palsu warna keemasan yang sekali-kali mengkilat oleh pantulan sinar yang berkelebat. Kuku-kuku tangannya terpotong tak rata, seperti penderita penyakit jiwa. Cekung matanya hitam seperti pejudi yang suka begadang sepanjang malam. Payudaranya kempot, dengan tubuh kurus dan kulit penuh sembulan otot.  Perempuan ini barangkali memang sedang terganggu jiwanya. Stres!

’’Anak Mbak berapa?’’ tanya saya mengalihkan arah perbincangan. Kalau saya mengiyakan untuk mendengarkan ceritanya, pasti saya tidak bisa tidur, bukan cuma malam ini tapi sebulan malam setelah ini.

’’Tiga yang hidup. Tiga yang kugugurkan.’’

    Ah, pertanyaan saya salah arah lagi. 

’’Maaf Mbak, saya ngantuk. Saya tidur ya?’’

’’Menutup mata untuk membayangkan bayi yang dimasukkan mesin cuci?’’ katanya.

Saya kira saya sudah terperangkap dalam terornya. Saya urung merebahkan kepala saya pada sandaran jok tak berbusa yang bangkunya sudah membikin pantat saya terasa panas bukan alang kepalang ini. Saya bergeser sedikit, punggung saya seperti sedang tertindih baja.

’’Mbak, kenapa Mbak mengarang cerita ngeri begitu? Mustahil. Saya tidak percaya.’’

’’Karena kau tidak tahu.’’

’’Membunuh bayi pasti dihukum mati.’’

’’Tapi kawanku bebas!’’

’’Karena cerita membunuh itu tidak pernah ada!’’ bantah saya. Saya sadar suara saya agak membentak.

’’Kau masih kecil. Apa yang kau tahu? Apa kau tahu ia tak pernah punya nama pasti? Apa kau tahu ia beralamat palsu?’’

’’Saya mungkin cuma 22 tahun. Tapi saya tahu saya sedang dibohongi.’’

’’Kalau tahu mengapa mesti ketakutan? Takut pada sesuatu yang bohong? Kok nggak lucu sih kamu, Wuk Bawuk…’’

  Saya memandangnya, sebenarnya saya sedang memelototinya. Ia menggeser kakinya sambil meringis.

’’Lihatlah, jempol kakiku hancur,’’ katanya lagi.

  Saya mulai mengerti ia tidak gila. Orang tidak waras pasti tidak bisa berdebat. Saya menatap pada kakinya. Ia agak menaikkan celana panjangnya, melepas kaki dari sandal, menyorongkan kakinya ke depan saya, mencari cahaya untuk menunjukkan jarinya pada saya. Di antara jari-jari kurusnya tampak kuku ibu jari kanannya tak berbentuk, korengan, dan membusuk.

’’Tertimpa  kaki meja saat mempersiapkan jamuan makan malam majikan,’’ paparnya saat mata saya tertumbuk miliknya.

’’Tak dibawa ke dokterkah?’’

’’Pakai uangnya biyungmu apa?’’

  ’’Ya, uangnya majikan Mbaklah.’’

’’Biar aku nggak dikasih makan seharian?’’

Tiba-tiba saya merasa iba padanya. Sebegitu pahitkah?

Mendengar kisah bagaimana kawan-kawan saya menjalani kehidupan sebagai buruh migran seringkali memerangahkan saya. Mulai dari cara mereka memberi nama majikan sebagai Mak Lampir, Nini Pelet, Mak Jambrong, bahkan Anjing! Atau tindakan nekat mereka mencampur sup yang diminum majikan dengan air kencing biar majikan nurut dan tak cerewet. Cerita-cerita yang semakin memberi keyakinan pada saya bahwa selama ini saya bernasib jauh lebih baik dari mereka. Pekerjaan saya cuma bersih-bersih rumah dan menjaga anjing. Itu pun dengan dua pembantu.

Meski awalnya takut-takut, saya bertanya kepadanya. Dia rupanya janda yang ditinggal kawin suami yang setahun lebih sebulan bekerja di Saudi Arabia pada keluarga Tuan Minyak berbini tiga beranak sepuluh dengan satu saja pembantu, yaitu dirinya. Sedapat mungkin saya menghindar untuk bertanya tentang kebenaran cerita bayi dan racun tikus itu. Semua masih terlelap.

***

Semburat merah matahari pagi tampak di depan kami. Lalu saya menduga kami sedang menuju arah timur. Kendaraan yang kami tumpangi terseok-seok pada jalan tak rata. Muka kernet yang masih saja terlelap terangguk-angguk, kali ini terdengar bunyi seperti suara babi dari hidungnya. Barangkali ia sedang bermimpi jadi kaya raya dengan cara menjelma jadi babi ngepet.

Adidas pemberian majikan saya di pergelangan tangan menunjuk angka empat pagi. Kendaraan yang kami tumpangi membelok pada gang sempit yang jalannya membuat jidat saya tertumbuk muka Mbak Yem, wanita yang bercerita tentang susu racun tikus itu. Ia tersenyum. Bahkan senyumnya seperti nenek-nenek yang sedang berkabung karena ditinggal mati suaminya. Janggal dan dipaksakan.

Tiba-tiba mobil berhenti. ’’Bangun-bangun! Kita istirahat dulu,’’ kata sopir parau. Semua penumpang menggeliat, geragapan lalu menarik otot-otot mereka hingga terdengar bunyi gemeretak dari sendi-sendi yang terulur. Kernet melompat dan menggiring kami pada ruang berukuran 3 x 4 dan menyuruh kami duduk. Dia lalu bergegas mengunci pintu.

’’Kok dikunci?!’’ teriak saya. Kernet memelototi saya, saya balik memelototinya. ’’Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,’’ katanya, sambil melenggang pergi menuju ke segerombolan orang yang bicara dengan berbisik-bisik.

  Saya perhatikan wajah-wajah pucat kawan saya yang terkantuk-kantuk yang dengan tidak curiga menyerahkan paspor mereka kepada kernet.  Saya pun menyerahkan milik saya setelah sempat saya baca sebuah tulisan bercat hijau berbunyi: MONEY CHANGER di belakang meja bertuliskan KONTER. Di ruangan yang dihuni beberapa laki-laki ini, kawan-kawan seperjalanan saya dipanggil satu demi satu ke ruang yang saya tak mampu melongok apa yang terjadi di dalam sana. Saya was-was, ketika menyadari saya satu-satunya TKW yang dapat giliran paling belakang.

’’Kami membantu TKW. Karena banyak penipuan, maka kami membantu untuk menguruskan uang TKW yang masih dalam bentuk cek, dolar, riyal, atau ringgit. Bukan apa-apa, kadang uang-uang itu palsu. Kami tidak memaksa, tapi semua ini demi kebaikan TKW juga,’’ kata lelaki yang cara menatapnya tak tenang seperti kucing hendak mencuri ikan asin.

  Saya teringat uang tiga ribu dollar Singapura yang nilainya sekitar lima belas juta rupiah di dalam tas punggung saya, terselip di antara kapas tampon pembalut wanita. Kata saya, ’’Uang saya sudah saya kirim ke ibu saya semuanya.’’

’’Boleh lihat bukti pengirimannya? Kadang-kadang jasa pengirim uang menipu. Kalau kita sih sama-sama orang Indonesia, kan baik kalau saling peduli.’’

’’Sudah saya buang di kotak sampah di Singapura,’’ jawab saya. ’’Saya sudah boleh pergi?”

’’Silakan. Ke sini bukan sana!’’ parintahnya agak membentak.

Ketika kami berada  kembali di dalam kendaraan, kawan-kawan saya ribut mengeluhkan kurs mata uang rupiah yang lebih mahal di Indonesia. ’’Harusnya kutukar semua di Singapura, Tik. Jadi ruginya nggak banyak banget kayak begini,’’ kata Mbak Karti. Saya merasa saya sedang ingkar janji pada mantan majikan untuk menjaga Mbak Karti.

Ketika semua orang ribut tentang uang dan cek mereka yang di tangan sudah dalam bentuk rupiah, Mbak Yem diam saja. Tatapannya kosong. Pagi yang semburat memperlihatkan wajahnya yang kusut-masai. Kesedihan seperti sedang menggantungi lehernya.

’’Mbak Yem tukar uang juga?’’ saya bertanya agak berbisik.

’’Nggak.’’

’’Mbak Yem pikir mereka bohong?’’

’’Karena aku nggak punya uang.’’ Ia memandang jauh ke depan, ’’Majikanku akan mengirim cek uang gajiku.’’

’’Hah?! Mbak Yem percaya?’’ serempak semua perempuan yang semula acuh menanya Mbak Yem.

’’Nggak. Tapi aku bisa apa?’’

  Saya yakin yang dimaksudkan bila bersikeras meminta gajinya, ia harus menunda kepulangannya ke Indonesia. Setuju untuk menerima tawaran majikan adalah satu-satunya jalan agar majikan bersedia membelikan tiket pesawat untuk pulang.

Selepas sarapan pagi di sebuah warung, kami dibawa ke tempat yang saya benar-benar tak tahu namanya. Pada sebuah rumah, di mana kami boleh mandi dan duduk di lantai berkarpet. Ada beberapa orang lain yang mungkin tiba beberapa saat sebelum kami. Mereka menuju Jawa Timur. Kami hanya berpapasan beberapa menit saja. Sopir mereka sudah berteriak-teriak memanggil mereka untuk segera melanjutkan perjalanan.

  Saya mencoba mencari jawab tentang tempat yang kami singgahi, tapi gagal. Tak ada petunjuk yang saya dapatkan. Bahkan keterangan kami berada di daerah mana pun, saya tidak tahu. Tetapi orang-orang yang sepertinya tuan rumah ini bicara dalam bahasa lu-gue.

Satu jam kami dibiarkan keleleran di atas karpet, sampai seseorang memanggil nama-nama kami satu per satu ke satu ruang yang sebentar tadi saya lewati. Anehnya, tak ada satu orang pun di antara kawan-kawan saya yang bersedia menjawab pertanyaan saya setiap kali mereka keluar dan melewati saya. Cuma Mbak Yem yang melempar senyum tipis pada saya. Mbak Karti bilang, ’’La kok disuruh bayar lagi sih, Tik?’’ Lagi-lagi saya dapat giliran yang terakhir.

’’Kami dari perusahaan jasa asuransi, uang yang Mbak bayarkan di bandara itu cuma asuransi untuk masa berlaku selama Mbak belum keluar Jakarta dan Jawa Barat. Setelah itu kami tidak bertanggung jawab. Kemarin sebuah mobil yang mengangkut TKW dirampok di Brebes. Barang-barangnya ludes, TKW-nya diperkosa. Kami cuma minta lima ratus ribu saja. Sudah termasuk pesangon untuk sopir dan kernet yang mengantar. Ya, tapi ini terserah Mbaklah. Mbak sayang duit atau keselamatan Mbak sendiri,’’ laki-laki di depan saya berusaha menjelaskan niat baiknya.

’’Baik sekali Bapak ya? Boleh minta kartu namanya, Pak?’’ saya menerapkan ajaran majikan untuk tidak mempercayai orang asing. Lagi pula, saya mengira ia sedang berusaha mengompas saya dan teman-teman. Ia geragapan. Matanya jalang mengamati meja di antara kami yang tak ada apa-apanya selain asbak. ’’Wah, maaf Mbak, kebetulan saat ini kartu nama saya habis,’’ jawabnya kemudian.

Mujurnya, di saat yang bersamaan mata saya sekilas melihat  kalender bergambar kucing yang di bagian bawahnya tertulis nama toko mas lengkap dengan alamatnya.

’’Kalau tidak salah ini Bekasi ya Pak? Boleh pinjam teleponnya Pak, kebetulan saudara saya bekerja di kepolisian Depok. Saya tidak bawa uang sebanyak itu. Saya pikir saya akan minta dijemput saja dari  sini. Apalagi jika travel tidak memberi jaminan keselamatan buat saya.’’

Saya sendiri bahkan takjub oleh ketenangan saya. Lelaki di depan saya berdiri. Saya pikir ia akan membentak atau memukul saya. Ternyata ia menuju kipas angin di pojok ruangan, lalu menyalakannya. Rupanya percakapan kami telah membuatnya gerah.

’’Sebentar Mbak, saya keluar dulu,’’ katanya.

Ditinggalkan sendiri saya malah menyesal telah nyinyir. Saudara? Di Depok? Polisi? Bagaimana kalau ia percaya, lalu menyuruh saya pergi sendiri, terpisah dengan TKW yang lain? Di daerah yang saya tidak kenali sama sekali!

’’Mbak, tolong jangan bilang ke kawan-kawannya, Mbak tidak membayar asuransi. Sekali ini, baiklah kami menolong Mbak. Mbak bisa tetap melanjutkan perjalanan. Semoga selamat.  Semoga tak dirampok dan diperkosa di jalan. Silakan keluar!’’ Dia mengusir dengan membentak saya. Saya lega.

’’Kau bayar?’’ kata Mbak Yem berbisik ketika kami melanjutkan perjalanan.

’’Tidak. Mbak?’’

’’Jadi, kau tak percaya aku tak punya uang sama sekali?’’

’’Oh, maaf.’’

’’Mereka pikir mereka saja yang pintar! Dasar!’’ umpatnya.

Kawan-kawan saya terlelap lagi ketika kami melintasi jalan-jalan yang berdebu. Saya diam, karena Mbak Yem juga diam. Mengamati benda-benda yang bergerak menjauh ke belakang kendaraan kami, seperti tak percaya saya telah benar-benar berada di negara saya kembali. Dua tahun ternyata mampu mengubah banyak hal. Banyak sekali orang-orang berhati aspal. Bermuka aspal. Berkelakuan seperti aspal. Hitam dan tak bernaluri.

Entah berapa lama saya terlelap, meski tak suka tidur di mobil, didera capai saya klenger juga. Mobil sudah melintasi jalan yang bergerunjal oleh batu-batu. Tubuh saya menjundal-jundal, barang bawaan kami melorot menimpa tubuh kami. Keadaan itu berlangsung cukup lama sampai Mbak Yem tiba-tiba teriak, ’’Belok kiri, Pir!’’

’’Sudah sampai Mbak?’’ tanya saya.

  ’’Ya. Kamu jaga diri ya? Baru sedikit yang kamu tahu,’’ katanya.

Mobil berhenti, kernet melompat turun. ’’Sutiyem ya?! Tanda tangan sini nih, kita mesti terus jalan nggak boleh mampir,’’ katanya kepada Mbak Yem sembari melirik rumah mungil yang berdinding bambu. Sepi sekali.

Kuperhatikan Mbak Yem yang terpincang-pincang mengangkat ranselnya. Bawaannya paling sedikit di antara kami.

’’Mbak Yem!’’ saya memanggilnya melalui kaca jendela yang saya sibakkan sedikit.

       Ia menjatuhkan bawaannya. Melangkah terseret-seret menuju saya. Mesin mobil sudah dihidupkan.

’’Racun tikus di susu bayi itu, benar?’’

’’Aku bukan Yem, aku orang bebas!’’ katanya. Ia tersenyum.

Saya tak pernah mampu mengartikan senyumnya yang terakhir kala itu. Bahkan ketika saya memutuskan untuk menceritakan ini kepadamu. Mungkin ia bilang bahwa ia pun bisa memberikan penderitaan pada manusia lain. Pernah kau bayangkan anakmu kau beri susu bercampur racun tikus? Ia, bukan Yem, barangkali sudah melakukannya. Pada keluarga Tuan Minyak yang berbini tiga beranak sepuluh.

Tapi, Mbak Yem (mungkin bukan Yem) tidak bilang ya. Cuma samar. Hanya samar. ***

 

Hongkong, 30/3/2006

 

*) Etik Juwita, cerpenis buruh migran Hongkong. Hingga kini masih menjadi pembantu rumah tangga di negeri rantauannya itu.

 

Jawa Pos, Minggu, 10 Juni 2007

 

Cerpen Etik Juwita Bukan Yem ini terpilih/masuk sebagai 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2008 (akan dibukukan GPU) versi Pena Kencana.

 

                            

         

 

 


Blog EntryBIDADARIKUNov 8, '07 11:10 AM
for everyone

 

Aku masih ingat kisah Jaka Tarub yang sangat menarik itu. Dulu guruku saat aku duduk di bangku kelas 3 SD menceritakan kisah itu dengan sangat apik. Kami suntuk mendengarkannya, seolah tak mau kehilangan satu katapun. Tak seorangpun di antara kami ada yang mengantuk. Semua suntuk. Dan tampaknya kenyataan itu membuat Pak Adi, guru kelas tiga itu, semakin bersemangat bercerita. Beginilah ringkasannya, seingat saya:

Adalah seorang pemuda, Jaka Tarub namanya. Dia tampan. Gagah perkasa. Kegemarannya adalah memasuki hutan memburu burung dengan senjata tulupan. Pada suatu hari, ia dikejutkan oleh pemandangan di tengah telaga, di tengah hutan: belasan wanita cantik bersuka-ria, berenang-renang, mandi, sambil mempermainkan air telaga yang bening berkilau-kilauan. Dengan penuh penasaran dan dengan perasaan seperti sedang dapat rejeki nomplok, Jaka Tarub mengendap-endap mengintip mereka. Lalu timbullah keisengannya. Dicurinya sehelai selendang dari tumpukan pakaian para wanita cantik yang sedang mandi itu. Mereka sedang ranum-ranumnya. Begitu barangkali pikir Jaka Tarub saat itu, dan

"Alangkah senangnya jika aku bisa menjebaknya dalam kurungan cintaku!"

Berdasarkan cerita Pak Adi, hanya selendang saja yang dicuri Jaka Tarub. Tetapi, di kemudian hari, pikiran saya tidak bisa percaya jika Jaka Tarub tidak menggambil juga kutang atau bahkan celana dalam bidadari itu.

Pemandangan berikutnya yang membuat Jaka Tarup terperangah adalah ketika mereka mentas dan kemudian berlarian ke arah tumpukan pakaian mereka. Pemandangan itu sunguh sangat sensasional. Tapi itu belum. Begitu mereka mengenakan pakaian kembali, mereka terbang seperti burung. Sekilas meninggalkan jejak bagaikan pelangi, yang kemudian lenyap tak berbekas sama sekali. Baru saat itulah Jaka Tarub sadar bahwa dia telah melihat sekawanan bidadari seperti yang pernah dia ketahui dari dongengan.

Ada satu yang tertinggal. Dia bidadari paling cantik. Dia panik. Selendangnya hilang. Percayalah, dia juga kehilangan celana dalam. Dan kutang! Dia mulai menangis. Dan datanglah Jaka Tarub menghampirinya.

"Hai, Nona manis. Siapakah namamu?"

"Nawangwulan. Anda sendiri?"

"Ya. Saya sendiri. Tetapi tidak. Sekarang ada kamu."

"Bukan. Maksudku, nama Anda siapa?"

"O, nama. Namaku Jaka Tarub. Artinya, bujangan dari desa Tarub. Mmm. Mengapa Anda menangis? Dan lagi, sendirian di tengah hutan belantara begini? Apakah tidak takut ketemu babi, atau macan, atau ular berbisa? Takutlah, biar aku punya alasan untuk mengawalmu."

"Ketahuilah, Mas Jaka, aku ini bukan manusia. Aku seorang bidadari dari kahyangan. Tadi aku datang bersama teman-temanku. Tetapi kini aku tak bisa kembali karena selendangku hilang. Aku tak bisa lagi terbang. Maukah Anda menolongku, Mas Jaka, mencarikan selendangku yang hilang itu?"

"Mau.Mau. Mari kita cari sekarang juga!"

Jaka Tarub pura-pura membantu Nawangwulan mencari selendang yang sesungguhnya dia sembunyikan itu. Tentu saja tidak pernah ketemu. Soalnya sebelum dicari sudah ketemu. Tetapi mereka menemukan sesuatu, yang lain, yang, kata orang bernama cinta. Dengan cinta itulah Jaka Tarub menikahi Nawangwulan. Dari perkawinan mereka lahirlah seorang bayi perempuan yang kemudian mereka beri nama Nawangsari. Sayang, karena kecerobohan Jaka Tarub, mereka harus bercerai, saat Nawangsari masih kecil. Nawangwulan terbang kembali ke kahyangan.

Begitulah.

Aku mendapatkan Nawang. Bukan Nawangwulan. Bukan pula Nawangsari. Tanpa mencuri apa-apanya. Mencuri hatinya, mungkin. Aku pun tidak pernah pasti. Tetapi bahwa aku mencintainya, aku yakin sekali. Yakin pada cintaku sendiri. Sungguh mati aku mencintainya!

Saat itu aku sedang berada di tengah hutan. Aku bukan Jaka Tarub si pemburu burung bersenjata tulupan. Aku penyayang burung, tentu tak akan tega membunuhnya dengan tulupan. Pencari kayu juga bukan. Bahkan semula aku pun tak tahu, mengapa aku berada di tengah hutan. Sampai kemudian aku temukan Nawang. Dia sedang kebingungan pula tampaknya. Dia sedang menderita. Dia terluka. Tak tahu pasti aku, apakah karena jatuh, ataukah diserang binatang buas. Yang saya tahu hanyalah: dia terluka, berdarah-darah.

Bedanya lagi dengan Jaka Tarub yang baru mengetahui bahwa para wanita di hadapannya adalah bidadari saat mereka beterbangan, aku sudah melihat Nawang bukan sebagai wanita sembarangan sejak pertama kali menatap matanya. Matanya bening. Sorotnya tajam. Dia sedang terluka parah, tapi tak sedikitpun kutangkap kesan bahwa dia sedang membutuhkan pertolongan. Dia begitu tabah. Begitu tegar, sebagai seorang wanita.

Aku jatuh cinta pada pandang pertama. Dan selalu mencintainya. Tak peduli aku, apakah dia mencintaiku atau tidak.

"Nona manis, siapakah Anda?"

"Namaku Nawang. Anda siapa?"

"Aku Lanang."

"Hm."

"Cari apa kau di sini?"

"Tidak tahu."

"Lho."

"Memang tidak tahu."

"Baru terjatuh, ya?"

"Tidak tahu."

"Lihat, lukamu masih terus meneteskan darah."

"Sudah tahu."

"Lha, iya, kenapa kau jadi luka-luka begini?"

"Tidak tahu."

Begitulah.

Aku hampir pingsan oleh jawaban-jawabannya yang terlalu obral kata tidak tahu itu. Batinku sangat jengkel. Dan tiba-tiba aku dapat ide untuk sebuah pertanyaan bagus.

"Maukah kau kawin denganku?"

"Tidak tahu!"

Kemudian, aku benar-benar pingsan.

Sungguh, rasanya memang seperti sulapan. Begitu siuman, aku sudah mengenakan pakaian tidak seperti yang biasanya aku pakai. Nawang juga. Sangat nganeh-anehi. Sungguh, aku tak bisa mengerti. Dalam tempo yang sangat singkat aku telah menikahi Nawang. Aku menjadi seorang suami. Tiga tahun berikutnya, kami mendapatkan Kenang, anak lanang kami satu-satunya.

Pernahkah Jaka Tarub menyesali kecerobohannya? Aku tidak tahu. Tetapi rasa sesalku kini, seandainya bisa kutebus! Dengan apa? Aku telah ceroboh. Mungkin lebih ceroboh daripada Jaka Tarub itu. Telah kubiarkan diriku mabuk dan asyik sendiri. Hari-hariku hampir-hampir habis kutenggelamkan dalam kegembiraan setelah berhasil mempersunting Nawang, bidadari cantik yang tak pernah pasti kuketahui asal-usulnya itu.

Yang kuketahui hanyalah bahwa dia sangat cantik. Sangat tabah, dan sangat perkasa. Dan dia benar-benar marah setelah berkali-kali gagal menegurku.

"Ingatlah, Mas, kini kau seorang ayah. Ayo, bangunlah. Matahari sudah tinggi."

"Biarlah. Apakah lagi yang lebih nikmat dari mimpi ini? Aku sungguh mencintaimu, sayangku. Biarlah segalanya tenggelam dalam cintaku ini."

"Kau sendiri yang akan tenggelam. Dan akan mati!"

"Biar!"

"Ya, sudah!"

Begitulah.

Keesokan harinya, aku benar-benar mati. Ditinggal pergi. Persis saat padi di dalam lumbung itu benar-benar habis.

"Aku pergi sekarang, Mas. Kita sudah tak mungkin bersama-sama lagi. Kita punya dunia kita sendiri-sendiri. Kutitipkan Kenang padamu. Jika dia menangis merindukanku, sebutlah namaku, maka aku akan datang bersama angin, bersama gerimis berselendang pelangi."

"Jika aku yang rindu?"

"Kamu tak pernah merindukanku. Percayalah. Kau berkata begitu hanya karena sedang mabuk."

"Maka tuangkanlah lagi anggur cintamu itu, untukku. Biar aku jadi pemabuk sejati. Yang selalu mabuk di dalam tidur dan di dalam jagaku. Mabuk di dalam mimpi, di dalam hidup dan di dalam matiku. O, bidadariku!"

Mungkin aku masih mabuk saat kubuka mata, dan tak ada siapa-siapa di dekatku.*

 

 

Surabaya, Maret 2000

Dari   buku cerpen: CINTA MERAH JAMBU

 


 

Cerpen Bonari Nabonenar

 

Mat Tabik, begitulah namanya. Laki-laki 50-an tahun itu telah hampir 30 tahun mengabdi di Perusahaan Cetakmedia. Ia tidak pernah mendapatkan penghargaan, apalagi berupa bintang jasa, walaupun jasanya sangat besar. Apakah karena ia karyawan yang sepanjang sejarah pengabdiannya di Perusahaan pangkatnya tetap saja sebagai office-boy [mungkin lebih tepat office-man, atau bahkan office old-man!?]. Bayangkan, selain melakukan tugasnya sesuai juklak dan juknis dan protap [masing-masing  adalah singkatan dari: petunjuk tetap, petunjuk teknis, dan prosedur tetap] seperti: mengepel lantai, mengatur dan menyirami taman, mengelap segala yang perlu di-lap seperti meja, kursi, rak, almari, dan komputer yang ada di kantor, Mat Tabik tak pernah menolak permintaan karyawan [tanpa kecuali] untuk membelikan nasi bungkus untuk, biasanya, makan siang. Kalau ada karyawan yang lembur, biasanya pula dan hampir selalu, Mat Tabik juga ikut-ikutan lembur. Karena, kalau ada hal-hal yang memerlukan penanganan Mat Tabik, misalnya membeli ATK [alat-tulis-kantor] secara mendadak, Mat Tabik harus selalu siaga.

Ada lagi yang biasa dilakukan Mat Tabik, yakni memijiti Gus Basir [begitulah Mat Tabik selalu menyapa Kepala Bagian Personalia] yang oleh karyawan lainnya juga dijuluki Bos Kecil itu. Siapa Bos besarnya? Tak lain adalah Den Moi [konon nama aslinya Moijo]. Den Moi adalah Sang Pemilik Perusahaan [persisnya pemegang 60 % saham] itu.

Mengapa Mat Tabik menyapa Kepala Bagian itu dengan sebutan Gus [sapaan yang biasanya ditujukan kepada anak kiai atau bahkan sang kiai itu sendiri]? Dan tidak dengan ’Pak’ atau bahkan ’Mas’  seperti karyawan lainnya? Tidak ada yang bisa memberikan penjelasan atau mencoba bertanya sendiri kepada Mat Tabik.  Tetapi, bahwa Mat Tabik sering salah menyebut sesuatu, itu sudah terkenal. Misalnya, pagi-pagi, sambil memijiti Gus Basir-nya, ia nyerocos berkisah, ’’…maka sekarang televisi Gundrikku itu sudah aku jual. Aku beli baru, merek Musibah.’’ Maksudnya, televisi merek Grundig-nya dijual, dan dia beli baru merek Toshiba.

Lalu, seperti biasanya, ia bercerita tentang anak-anaknya yang makin perlu banyak uang untuk sekolah mereka, dan istrinya yang buka warung soto. Kadang, pertengkaran kecil dengan istrinya pun diceritakan pula.

Mat Tabik adalah karyawan yang setia. Ia tidak pernah berpikir untuk pindah kerja ke perusahaan lain. Ia merasa tenteram, walau sering mengeluh bahwa gajinya terasa makin kecil, walau angkanya bertambah. Dengan Gus Basir-nya, Mat Tabik tak pernah ragu-ragu buka-bukaan. Bahkan, Si Kepala Bagian-nya itu kadang kelewatan, mengorek-ngorek kisah hubungan intim Mat Tabik dengan istrinya. Saking lugunya Mat Tabik, berceritalah pula bagaimana sepak terjang ia dan istrinya di kamar RSS-nya. [Catatan: RSS adalah singkatan: rumah sangat sederhana].

Pada suatu hari, Mat Tabik tidak masuk kerja, minta izin melalui telepon. Basir Si Kepala Bagian itu yang menerima teleponnya. Di seberang sana, Mat Tabik bilang, ’’Duh, maaf ya Gus, hari ini aku tidak bisa masuk kerja. Di rumah sangat repot, ada tamu keluarga dari kampung. Dan siang ini juga aku harus mengantar istriku ke dokter spesialis anak kandung.’’

Basir tahu, yang dimaksudkan Mat Tabik adalah dokter spesialis kandungan dan anak.

’’Istrimu hamil lagi?’’

’’Tidak tahu. Kemarin aku sudah mengantarnya ke pokesmas [maksudnya: puskesmas] istriku tidak banyak cerita, hanya, aku harus mengantarnya ke dokter spesialis anak kandung siang ini. Katanya, nanti semuanya baru jelas setelah dari dokter spesialis anak kandung,’’ jawab Mat Tabik.

Keesokan harinya, Mat Tabik menghampiri Basir, menawarkan jasa pijit gratis, dan setelah beberapa menit memijiti salah seorang atasannya yang sedang mengetik itu, meluncurlah kalimat-kalimat Mat Tabik, yang pada intinya adalah meminta Basir untuk meminjaminya uang barang seratus atau dua ratus ribu rupiah. Karena, katanya, kas keluarga sudah terkuras habis, padahal ini baru pertengahan bulan.

Basir memberinya. Sambil berkata, ’’Gini lho, Pak Bik, sebentar lagi kan perusahaan kita ini akan berulang tahun. Nanti, ketika harus ada salah seorang karyawan yang berpidato, seperti biasanya, sampeyan saja yang berpidato, mewakili karyawan lain, terutama golongan rendah. Jangan lupa, saat pidato nanti sampaikanlah keluh-kesahmu selama ini, bahwa gaji naik tidak seimbang dengan lonjakan kebutuhan hidup kita. Nanti aku buatkan naskahnya, sampeyan tinggal menghafalkannya saja. Kalau perlu, kita adakan latihan sebelumnya.

Singkat cerita, naskah sudah dibuat. Latihan beberapa kali diadakan, dan Mat Tabik telah menghafalnya di luar kepala. Pada intinya, isi pidato itu adalah memohon dengan cara yang halus, tidak pakai demonstrasi, tetapi dengan bahasa yang santun, agar para karyawan mendapatkan kesejahteraan yang layak sesuai dengan jerih-payah mereka mengabdi pada perusahaan.

Lalu, apa yang terjadi ketika saatnya tiba? Mat Tabik sudah berdiri di atas panggung. Di hadapannya adalah seluruh karyawan dan para pemegang saham. Ada para kepala bagian, sekretaris, para direktur, dan bahkan para komisaris. Memandangi mereka yang duduk di kursi depan Mat Tabik tak sekadar grogi, tapi benarbenar mau pingsan. Untunglah, tepuk tangan dan teriakan memberi dukungan itu membangkitkan kembali semangatnya.

Maka, ’’Yang terhormat para pemimpin perusahaan, para karyawan semua yang tercinta, marilah kita semakin giat bekerja. Karena kalau perusahaan merugi, akhirnya kita juga ikut merugi. Lebih baik bercucuran keringat karena bekerja, itu sehat, daripada bercucuran air mata karena terkena pe-ha-ka….’’

Loh, naskah yang diam-diam dibuatkan oleh Si Kepala Bagian dan telah dihafalnya di luar kepala itu ke mana larinya? Tak ada yang tahu. Yang jelas, Mat Tabik mendapatkan tepuk tangan panjang sebelum turun dari panggung. [*]

 

Sumber: Majalah Peduli


Blog EntryBerjuta-juta Jalan Menuju KematianOct 29, '07 3:06 AM
for everyone

Cerpen Bonari Nabonenar

 

Tiba-tiba perempuan ini menyeretku ke sebuah sudut remang nan sepi, dan memberondongkan kata-kata yang membuatku pusing tujuh keliling, membuat kepalaku cekot-cekot, membuatku kembali menempuh jalan panjang ke masa lalu hanya untuk memunguti serpih-serpih ingatan dan pengetahuanku tentang kematian. Perempuan ini kadang membuatku tertawa-tawa, kadang membuatku jengkel, marah, sedih, dan bahkan kadang ingin mati saja. Perempuan ini benar-benar membuatku sengsara. Maka, kalau aku harus bersyukur, justru kesengsaraan ini, yang seolah ditimpakannya kepadaku tanpa ampun, telah menegaskan kepada dunia bahwa aku masih hidup! Walau kenyataannya aku telah mati berkali-kali.

Sahdan, jam 3 dini pagi sebutir peluru tepat menembus dada kiri Titin Sumartin, lalu melesat ke batang pohon hingga kulitnya mengelupas. Sayangnya Titin Sumartin belum mati, sehingga atas persetujuan dokter yang mendampinginya sebutir peluru diarahkan ke keningnya. Tapi Titin Sumartin belum juga mati. Lalu dokter bertanya, ''Hai Titin, segala permintaanmu sudah kukabulkan. Tapi kamu tidak kunjung mati. Ketemu suamimu sudah. Ketemu anak-anakmu dan cucu-cucumu juga sudah. Bilang saja, siapa yang kau harapkan?''

Sambil mengelap darah di pipinya Titin Sumartin berkata, ''Hanya satu yang kuinginkan sekarang, yaitu bertemu Ni Go Lang1, ingin kutanyakan, adakah asuransi hari tua di akhirat?''2

Sejak dua hari sebelum kematian Titin Sumartin, Ni Go Lang mengaku pusing tujuh keliling. Niatnya untuk menemui Titin Sumartin di dalam tahanan sebelum peluru menembus dada perempuan itu tak kesampaian. Ni Go Lang sudah menelepon Kepala Lembaga Pemasyarakatan, tetapi tidak diizinkan menemui si terpidana mati itu. Lalu, lewat SMS, Go Lang berkeluh-kesah kepada teman-temannya, termasuk kepada Lewis Budy Santos yang kemudian menjawabnya dengan SMS lucu itu. Selera humor Lewis, menurutku cukup bagus. Itulah kearifan khas Lewis untuk menolong seorang teman yang menderita resah-gelisah, dan bahkan meningkat menjadi imsomnia, gara-gara gagal melunaskan keinginannya untuk bertemu dengan seorang terpidana mati pada saat-saat terakhir sebelum ajal menjemput. Bahwa kemudian karena SMS lucu itu Go Lang bahkan makin gelisah, itu mungkin soal lain. Dan soal lainnya lagi, aku pun ikut-ikutan jadi insomnia karenanya.

Aku melihat opini bertebaran di koran. Tentang hukuman mati. Aku hanya melihat-lihat judul-judulnya saja, tidak tertarik untuk membacanya. Tidak tahulah aku, mengapa tidak tertarik untuk membacanya. Mungkin saja itu adalah mekanisme batinku, bawah sadarku, untuk menghindari kemungkinan menjadi semakin gelisah dan semakin pusing. Celakaku, dalam dua hari Jumat berturut-turut di masjid yang berbeda, ke dalam telingaku memberondong teriakan kalimat-kalimat panjang tentang kematian, lebih tepatnya tentang hukuman mati!

''Kita ini bangsa yang zalim, karena hukum tidak ditegakkan. Seorang pembunuh sudah pasti hukumnya adalah dibunuh, sebab utang beras mesti dibayar beras, utang darah mesti dibayar darah. Utang nyawa dibayar nyawa. Mengapa kita menjadi sedemikian peragu, sehingga seseorang yang sudah terbukti sebagai pembunuh, berdarah dingin, lagi!—mesti menunggu belasan tahun untuk menerima hukumannya. Coba itunglah, berapa banyak harta negara yang harus dikeluarkan untuk biaya hidup puluhan dan bahkan belasan tahun si terpidana mati itu! Mengapa kita menyantuni pembunuh dan membiarkan anak yatim! Masya-Allah, kita memang benar-benar zalim! Begitulah, dan kita harus membayar kezaliman kita dengan kegelisahan hidup berkepanjangan, siang dan malam. Kita tak bisa tenang memarkir kendaraan kita di luar rumah, karena para pencuri bebas berkeliaran, bahkan setelah ditangkap dan hanya untuk beberapa bulan, atau bahkan beberapa hari ''disekolahkan'' di rumah tahanan. Mereka keluar dari tahanan dengan segar bugar, tak sebatang jemarinya pun yang dipotong  Mungkin hanya memar-memar karena dihajar, dan itu menjadi semacam pelajaran tambahan. Para pencuri itu keluar dari tahanan dan menjadi semakin kejam, semakin jahat, karena ia telah ditempa dengan model kehidupan yang begitu keras. Maka, lihatlah hukum yang ditegakkan di Negeri Beradab. Para pembunuh itu, setelah melalui proses pengadilan yang cepat, akan segera dijatuhi hukuman mati, dipenggal kepalanya dengan kelewang di tanah lapang, bisa disaksikan masyarakat umum, bahkan juga anak-anak kecil! Bukan seperti di kita, wartawan pun mesti dikecoh. Jelas-jelas pembunuh, penjahat, masih sebegitu ditutup-tutupinya. Anehnya lagi, tulisan-tulisan di koran-koran justru seperti disengaja untuk memancing-mancing rasa iba dan belas kasihan publik kepada si terpidana mati. Sudah begitu, kita masih bisa bilang merindukan masyarakat yang aman.''

Begitulah. Maaf, aku tidak bisa menirukan persis seperti aslinya. Juga, karena kalimat-kalimat itu, yang diteriakkan dengan amarah yang kental di antara ratusan orang yang hanya bias duduk terdiam itu, sangat memusingkan. Dan karena tidak sedang berada dalam forum diskusi, aku tidak bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk meredakan kegelisahanku. Aku hanya bisa diam. Seperti ratusan orang selain aku juga diam, membiarkan diri dimarahi habis-habisan! ''Kita ini benar-benar bangsa yang bebal. Bangsa yang abai terhadap seruan Tuhan. Kita ini benar-benar zalimun…!’’

Titin Sumartin sudah mati. Mungkin dia sudah benar-benar beristirahat dengan tenang. Sebab dia telah membayar hutangnya. Hutang tiga nyawa, dibayar satu nyawa? Hah? Bagaimana ini? Semakin lama, hutang ini tidak semakin berbunga! Atau, kalau mesti membayar tanpa bunga pun, bagaimana? Bukankah setiap manusia hidup hanya memiliki satu nyawa? Kepalaku tambah cekot-cekot!

Jangkrik! Ketika aku bertemu Ni Go Lang di Kantin Gumerah di tengah kota yang gerah, perempuan sipit –jangkrik-nya, dia cantik!—itu sudah bisa tertawa dengan riang. Seperti tak punya beban batin lagi. Lho, lho, dari siapa dia belajar ilmu memindahkan resah-gelisah dan segenap penderitaan batinnya itu kepadaku? Jangkriiiiiik, jangkrik!

''Mas Lewis itu memang mbencekno pol kok!3 Aku ini kan serius, ingin menemui Titin Sumartin pada saat-saat terakhir hidupnya. Mungkin karena saya juga perempuan, maka saya memiliki kesedihan yang susah saya terangkan, apalagi kepada laki-laki. Seperti Titin Sumartin, saya juga punya anak. Lupakanlah untuk sementara bahwa sekian tahun yang lalu Titin Sumartin telah menjadi pembunuh berdarah dingin. Lihatlah dia, kemarin itu, menjelang ia ditembak mati itu, ia adalah seorang manusia yang sebenarnya sudah mati. Kemerdekaannya pun telah ia cicilkan untuk utangnya yang akan segera dilunaskan. Ia sudah pasrah. Sudah tak berdaya. Apakah salah jika saya merasa kasihan? Hah! Aku benci. Semua yang kuhubungi, lewat telepon, atau sekadar melalui SMS, jawabannya selalu enteng. Mbencekno!''

Koran, tabloid, majalah, boleh mengekspose berita-berita seputar Titin Sumartin dalam beberapa hari kemarin, tetapi di kalangan teman-teman pengarang, penyair, seniman di kota ini, nama Ni Go Lang sebenarnya jauh lebih populer. Ia telah mengorbankan sekian banyak pulsa untuk mengirimkan SMS, menyatakan keprihatinannya atas kematian yang akan ditimpakan oleh tangan-tangan hokum kepada perempuan bernama Titin Sumartin. Ada juga SMS Go Lang yang berisi kronologis kegelisahan dan tindakannya untuk mencoba mengenyahkan penderitaan batinnya, dari meminta referensi mengenai hukuman mati kepada seorang sejarawan, sastrawan, dan bahkan pakarhukum yang paling dikagumi.  Tetapi, Go Lang tidak menemukan jawaban yang memuaskannya. Oh, ya, Go Lang juga menegaskan bahwa dia tidak memrotes dilaksanakannya hukuman mati itu. Ia bahkan menyayangkannya, mengapa itu didak dilaksanakan dulu-dulu, sehingga Titin Sumartin tidak harus menanggung penderitaan batin sekian lamanya. Lalu dikisahkanlah cerita film yang pernah ia lihat, tentang seorang anak yang lolos dari pembunuhan. Sekelompok berandal merampok dan menghabisi keluarga itu, kecuali seorang anak balita yang bahkan sempat menyaksikan hampir seluruh aksi para berandal itu dari kolong meja. Maka dendam pun tumbuh di dada si anak, bagaikan bara di dalam sekam, dan seiring pertumbuhan fisik dan dendamnya, ia memupuk ambisinya untuk dapat melampiaskan dendam atas nama keluarganya. Anak itu pun berkembang menjadi dewasa. Untuk keinginannya membalas dendam itu, kalau perlu Tuhan pun tidak akan ia takuti. Maksudnya, ia adalah seorang beragama yang taat, sebelum menyangkut urusan balas dendam itu. Maka, pada suatu hari, datanglah ia ke rumah pentolan berandal yang dahulu membantai orang tua dan saudara-saudaranya. Para centeng penjaga rumah itu dia jatuhkan satu per satu. Dan sampailah pada saatnya ia berhadap-hadapan dengan orang yang paling ia inginkan sejak ia masih kecil itu. Ternyata, pentolan berandal itu sudah teronggok di kursi roda. Ia sudah sangat renta. Jangankan dipukul, ibarat api kecil, sekali tiup pun ia bias mati. Ketidakberdayaan laki-laki tua mantan pentolan berandal itulah ternyata, yang kemudian memadamkan kobaran api dendam di dalam tokoh utama film yang dikisahkan kembali oleh Ni Go Lang.

''Nah, seperti itulah jiwa seorang manusia. Berarti, hukum itu tidak manusiawi, kan?'' protes Go Lang. Lalu lanjutnya, ''Okelah, tapi aku tidak dalam kapasitas memrotes hukuman mati atas Titin Sumartin itu. Saya hanya ingin menemuinya beberapa saat menjelang maut ditimpakan kepadanya. Mungkin juga aku hanya akan menemaninya menangis, kalau ia masih bisa menangis. Atau, bisa jadi juga aku hanya akan memperlihatkan kepadanya bahwa aku tak bisa menahan tangisku, di hadapannya. Aku hanya ingin diterima, seorang diri saja, menghadap Titin Sumartin, berbicara dari hati ke hati dengannya, jika ia masih mau bicara. Tetapi, sayangnya, birokrasi menghalangiku. –Kalau mau bicara ayo, bicara sama aku saja, lewat telepon, atau kalau mau datang ya temui aku saja, silakan datang! Jangan ganggu Bu Titin.— begitu kata Kepala Rumah Tahanan. Oh, apakah dia yang mau mati? Memangnya dia bisa bicara atas nama perasaan dan pikiran si terpidana mati? Dasar laki-laki! Pasti dia berpikiran ngeres begitu mendengar suara perempuanku di telepon! Belum tahu dia, aku bias jadi lebih laki-laki daripada laki-laki itu sendiri!''

Wajah Ni Go Lang yang putih cendawan itu pun tak urung memerah, tersulut oleh api yang kembali berkobar di dalam dada dan di kepalanya. Lima botol teh telah kosong di hadapannya. Padahal aku sendiri baru menghabiskan beberapa teguk kopi dari cangkirku. Sebagai tenaga pemasaran asuransi, Ni Go Lang terbiasa bergerak cepat. Memburu nasabah dengan cepat. Gerakannya lincah. Bicaranya juga cepat, dan dia punya energi yang sangat dahsyat untuk berbicara berjam-jam, bahkan melalui telepon. Makan cepat, minum cepat, jalan cepat. Tenaga besar, nafsu juga besar! Nafsu bicara Go Lang juga begitu besar. Ia selalu meneleponku, dan kemudian aku tahu dari teman-temanku yang juga teman-teman Go Lang, mereka juga sering ditelepon Go Lang. Pagi-pagi, misalnya, Go Lang mengirimkan SMS, ''Ini aku baru datang di kantor. Sebentar lagi mau nguber calon nasabah ke Jalan Sudirman.'' Tetapi, tak sampai setengah jam kemudian ia sudah mengirimkan SMS berikutnya, mengatakan bahwa ia sudah berada di Jalan Diponegoro, bertemu calon nasabah yang lain lagi. Dan tak lama kemudian ia sudah menelepon dari kantornya, menceritakan kesibukannya mengaduk-aduk seluruh isi kota, mengkampanyekan program-program asuransinya. Dan
kamudian, pada akhirnya, seperti biasanya, Go Lang bertutur tentang novelnya yang akan segera diterbitkan oleh penerbit terkenal, tentang editornya yang berkali-kali meneleponnya untuk membicarakan program peluncuran novel itu nanti, juga tentang komentar teman-teman lain-lain yang pernah dikirimi naskahnya melalui email. Lalu, katanya, ''Ayolah, sekarang sampeyan segera daftar asuransi. Pengarang jangan sampai nanti mati hanya meninggalkan setumpuk buku, tinggalkanlah pula polis asuransi!'' sambil ngakak dan kemudian menutup telepon.

Iya. Saya tahu Go Lang sedang guyon parikena Bercanda tetapi serius. Maksudnya, ia hanya bercanda, namun seandainya aku menanggapinya serius dan kemudian mendaftar sebagai nasabahnya, tentu ia akan menerima dengan senang hati. Itulah yang kemudian menyadarkan aku, betapa selama ini aku telah menempuh jalan hidup yang sangat tidak manusiawi. Ya.Aku hidup bagaikan binatang, bekerja hari ini untuk makan hari ini, paling banter untuk besok, dan bahkan sudah ambil utang untuk makan hari ini! Aku tidak punya perencanaan untuk masa depan, terutama dalam soal keuangan. Aku sudah melompat-lompat
berganti-ganti juragan, dan bahkan sudah puluhan kali berganti-ganti jenis pekerjaan, dan selalu hanya mendapatkan upah pas-pasan. Eh, kadang malah kurang! Jangan menanyaiku soal tabungan. Apalagi asuransi!

Aku malu. Benar-benar malu. Orangtuaku di desa telah menyekolahkanku. Gelar sarjana pun telah kudapat, dan kemudian aku memilih hidup di kota, memilih pekerjaan yang sekilas saja mungkin tampak lebih bergengsi daripada hanya sebagai petani seperti orang tua dan kakek-nenekku di desa. Tetapi sebenarnya aku tidak punya apa-apa yang patut kubanggakan. Terlebih kalau sudah menyangkut harta benda. Orang desaku, biasanya, jika tua sebatang kara, pastilah ada secuil tanah atau simpanan emas atau apa yang biasa disebut sebagai tunggu watang.4 Keluarga jauh, atau anak angkat, atau siapapunlah yang nanti  engurusnya kalau si tua itu sudah tidak bisa apa-apa lagi, hingga mati, hingga mengurus pemakamannya, maka dialah yang berhak mewarisi tunggu watang itu, tentu, setelah diambil sebagian untuk biaya perawatan dan pengurusan jenasah. Luar biasa bukan? Orang-orang itu tidak hanya punya rencana untuk kehidupan, tetapi juga untuk kematian mereka. Sedangkan aku?

Tiba-tiba aku merasa benci pada diriku sendiri. Mengapa aku tidak bisa menerima semua perkara secara enteng seperti Arik, yang menjawab SMS Go Lang dengan kalimat ini, seperti dituturkan Go Lang, ''Titin Sumartin mungkin lebih beruntung. Ia akan menerima kematiannya itu sebagai hukuman atas tindakannya membunuh sesama manusia. Itu kejahatan besar, apa pun alasannya. Dan publikasi besar-besaran itu tak urung juga mengelu-elukannya. Memopulerkan namanya, dan menarik sekian banyak simpati kepadanya. Tidak sepertimu, Lang, aku menganggap semua itu sebagai hal yang biasa, seperti orang tersedak maupun bersin itu bukan hal yang luar biasa. Sedang ketika ayahku dipancung hanya untuk sesuatu yang dikira orang diyakininya saja aku tidak berkomentar apa-apa, apalagi meributkannya! Maka biarkanlah Titin Sumartin mati dengan cara apa pun. Bukankah memang ada berjuta-juta jalan menuju kematian?'' Lalu aku teringat Mbah Kung5, ayah nenek saya, yang justru bersedih ketika seolah kematian pun malas menghampirinya. Berbulan-bulan ia terbaring sakit. Dan tampaknya bukan hanya rasa sakit saja yang menderanya, tetapi juga rasa bosan. Bosan kepada semua, kepada hidup di dunia juga. Seluruh keluarga pun merasa kasihan justru karena Mbah Kung tak segera mati. Dan ketika tiba saatnya Mbah Kung mati, semua juga berjalan seperti biasa, kami berkabung dengan cara yang sederhana, mengurus jenasahnya dengan cara yang sederhana, karena ketika tiba saatnya, kematian itu juga menghampiri Mbah Kung dengan cara yang sangat sederhana.

Sedangkan adik Mbah Kung, atau Mbah Kung-ku yang satunya lagi, yang meninggal beberapa tahun kemudian, menyisakan misteri yang sering juga membuatku pusing tujuh keliling. Pada suatu hari, ketika aku pulang ke desa, Mbah Jamus, begitulah biasanya aku menyapanya, menitipkan pesan penting kepadaku, berisi undangan agar seluruh anak dan cucunya berada di desa dalam ''minggu ini''.

''Jangan lupa, ya? Jangan sampai mereka tidak ke desa!'' begitu Mbah Jamus menegaskan pesannya kepadaku.

Aku pikir, akan terjadi pembagian warisan atau apa. Ternyata, di usianya yang sudah sembilan puluh sekian tahun itu, ketika semua anak dan cucunya berkumpul, Mbah Jamus jatuh sakit.Seperti kena flu biasa. Ia sempat dibawa ke puskesmas untuk diopname, walaupun ia sempat bersikukuh menolaknya. Ternyata ia terus berontak. ''Aku akan mati karena jengkel, bukan karena sakit, jika kalian tak juga memenuhi permintaanku. Ayo, kita pulang saja!'' kata Mbah Jamus. Lalu mereka mengalah, mambawa Mbah Jamus pulang. Setiap saat Mbah Jamus menanyakan waktu, ''Ini sudah pukul berapa, ya?'' seolah-olah ia punya janjian dengan seseorang. Mbah Jamus menyebutkan juga satu demi satu saudara jauh yang perlu segera dikabari kalau nanti ia mati. Seolah-olah Mbah Jamus sudah begitu akrap dengan kematiannya, tahu kapan kematian itu akan datang, seperti seorang perjaka mengenali pacarnya. Ketika pada hari itu juga akhirnya Mbah Jamus mati, orang-orang seolah baru tersadar bahwa Mbah Jamus menghadapi kematiannya tidak seperti orang kebanyakan.

Aku pun lalu teringat, lama sebelumnya Mbah Jamus pernah bercerita tentang pengalamannya mengikuti pelajaran, semacam menjalani simulasi kematian. Sampai sekarang aku juga belum paham benar, apa yang dimaksudkannya dengan istilah sinau mati6 itu Apakah benar mati bisa dipelajari? Seandainya memang orang bias tahu persis kapan akan mati, apakah bedanya itu dengan sebuah hukuman? Manakah sebenarnya yang lebih indah, ketika pacar kita datang tiba-tiba ataukah yang sejak lama sudah saling berjanji untuk bertemu? Aha! Keindahan kematian? Adakah kematian yang indah? Indah menurut siapa? Bagaimana pula kriterianya? Apakah kematian Duryudana7 setelah dihajar habis-habisan oleh Wrekudara8 dan dipatahkan pahanya dengan gada itu lebih indah daripada kematian Bhisma9 setelah dadanya ditembus panah Dewi Srikandhi10? Apakah semakin tragis sebuah kematian semakin indah? Ah! Apakah kematian Titin Sumartin adalah juga kematian yang indah?

Aku jadi malu sendiri. Hidup saja nggak becus! Untuk menetralisir perasaan, aku coba menelepon Go Lang.

''Lang, besok kita ngopi yuk?''

''Jangan besok, Mas! Besok aku mati!''

''Ha…???''

''Lusa saja, ya?''

''Setelah terima klaim asuransi?''

''Hahahahaha……!!''

Lalu, Go Lang menyeretku ke sebuah sudut remang yang sepi! []

 

 

Surabaya, April 2005

 

Sumber: Antologi Kumcer FSS: Black Forrest


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help