bonari's posts with tag: sastrwan
 Di dalam tulisan-tulisannya, perempuan kelahiran Bojonegoro 10 Agustus 1962 ini biasa memakai nama Wina Bojonegoro. Endang Winarti (itu nama KTP-nya) bekerja sebagai: Sekretaris di PT. TELKOM Surabaya. Alamat kantor: Jl. Ketintang 156 Surabaya 60231. Karya yg pernah Dimuat: [1] Orang-orang tersayang, Pertiwi,1988 [2] Takdir, Surabaya Post, 1988, [3] Surat, Jawa Pos, 1999, [4] Namaku Giri, Surabaya Post, 2001, [5] Miss Markonah, Jawa Pos, 2003, [4] Arimbi Vs Basuki, Jawa Pos, 2002, [5] Musim Semi di Yunani, Jawa Pos, 2002, [6] Perempuan Yang Menanti, Jawa Pos, 2001, [7] Perjalanan Terakhir, Jawa Pos, 2004, Buku: Kumpulan Cerpen : Episode Surat Kejantanan ( Logung Pustaka, 2005 ) Lain-lain : [1] Editor WEB Internal TELKOM, [2] Akstris terbaik Lomba Drama Lima Kota (LDLK) 1988, [3] Pendiri Sekolah ketrampilan “PUTRI KINASIH “
email: wina108@plasa.com

Agus Hadi Sudjiwo (Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962) atau lebih dikenal dengan nama Sudjiwo Tedjo adalah seorang budayawan Indonesia. Ia adalah lulusan dari ITB. Sempat menjadi wartawan di harian Kompas selama 8 tahun lalu berubah arah menjadi seorang penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang. Selain itu ia juga sempat menjadi sutradara dan bermain dalam beberapa film seperti Janji Joni dan Detik Terakhir. Selain itu dia juga tampil dalam drama teatrikal KabaretJo yang berarti "Ketawa Bareng Tejo". Dalam aksinya sebagai dalang, dia suka melanggar berbagai pakem seperti Rahwana dibuatnya jadi baik, Pandawa dibikinnya tidak selalu benar dan sebagainya. Ia sering menghindari pola hitam putih dalam pagelarannya. [wikipedia]
Nama aslinya Herlina Tien Suhesti; lahir di Ngawi, 26 April 1982) adalah seorang sastrawan asal Indonesia, meski dia lebih nyaman disebut penulis. Novel pertamanya Garis Tepi Seorang Lesbian menjadi bestseller yang membantu membuka jalan baginya untuk menerbitkan novel-novel selanjutnya. Saat ini dia aktif membangun sanggar kalian yang memberikan dukungan pada anak-anak. Saat ini tinggal di Yogyakarta. Beberapa bukunya yang telah terbit: Garis Tepi Seorang Lesbian (2003), Dejavu, Sayap yang Pecah (2004), Jilbab Britney Spears (2004), Sajak Cinta Yang Pertama (2005), Malam Untuk Soe Hok Gie (2005), Rebonding (2005), Broken Heart, Psikopop Teen Guide (2005), Koella, Bersamamu dan Terluka (2006), Sebuah Cinta yang Menangis (2006). Selebihnya, lihat http://herlinatiens.wordpress.com/ [wikipedia]
 Prof. Dr. Budi Darma, M.A.lahir tanggal 25 April 1937 di Rembang, Jawa Tengah. Ia anak keempat dari enam bersaudara yang semuanya laki-laki. Kedua orang tuanya berasal dari Rembang. Ayahnya bernama Munandar Darmowidagdo dan bekerja sebagai pegawai kantor pos. Ibunya bernama Sri Kunmaryati. Karena pekerjaan ayahnya, Budi darma sering berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti orang tuanya, antara lain di bandung, Yogyakarta, dan Semarang. Budi Darma menikah pada tanggal 14 Maret 1968 dengan Sitaresmi, S.H., yang lahir 7 September 1938. Dari pernikahannya itu, mereka dikaruniai tiga orang anak, yaitu Diana (lahir di Banyuwangi, 15 Mei 1969), Guritno (lahir di Banyuwangi, 4 Februari 1972), dan Hannato Widodo (lahir di Surabaya, 3 Juni 1974). Budi Darma menempuh pendidikan di berbagai kota. Pendidikan sekolah dasar diselesaikannya tahun 1950 di Kudus, Jawa Tengah. Sekolah menengah pertama diselesaikannya tahun 1953 di Salatiga, Jawa Tengah. Kemudian, pendidikan sekolah menengah atas (SMA) diselesaikannya di Semarang tahun 1956. Setamat SMA, Budi Darma meneruskan kuliah di Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, dan selesai tahun 1963. Judul skripsinya adalh Tragic Heroes in The Plays of Marlowe. Selama satu tahun (1967) ia mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat. Pada tahun 1970---1971 ia mendapat beasiswa dari East West Centre untuk belajar ilmu budaya dasar (basic humanities) di Universitas Hawai, Honolulu, Amerika Serikat. Pada tahun 1975 meraih gelar M.A. dari Universitas Indiana, Bloomington, Indiana, Amerika Serikat, yang judul tesisnya adalah Tha Death and The Alive, dan tahun 1980 di universitas yang sama ia meraih gelar Ph.D. dengan judul disertasinya Character and Moral Jugment in Jane Austin’s Novel. Setelah tamat dari Jurusan Satra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, (1963) sampai sekarang, Budi Darma mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) (dahulu IKIP Surabaya). Selain sebagai dosen, Budi Darma juga pernah menjabat Ketua Jurusan Sastra Inggris (1966—1970 dan 1980—1984), Dekan Fakultas Keguruan Sastra dan Seni (1963—1966 dan 1970—1974), dan Rektor IKIP Surabaya (1984—1988). Tahun 1980 ia menjadi visiting associate research di Universitas Indiana. Budi Darma tercatat sebagai anggota Modern Language Association (MLA), New York (1977—1990). Nama Budi Darma tercatat dalam buku Who’s Who in The World (1982—1983). Sumbangan Budi Darma kepada kehidupan sastra sangat besar. Dalam kerangka kerja sama Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera), Budi Darma membimbing cerpenis dan esais muda berbakat dari Brunai Darussalam, Indonesia, dan Malaysia dalam wadah Program Penulisan Mastera (1998—1999). Budi Darma juga terlibat dalam pembimbingan berbagai lokakarya dan penataran sastra bagi pegawai Pusat Bahasa dan dosen muda dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. Hasil karya Budi Darma berbentuk cerita pendek, novel, esai, dan puisi yang tersebar di berbagai media massa, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Budi Darma dianggap memelopori penggunaan teknik kolase, yaitu teknik penempelan potongan iklan bioskop dan tiket pertunjukan dalam karya-karyanya, seperti Orang-Orang Bloomington dan Olenka. Berikut ini adalah karya Budi Darma. 1. Orang-Orang Bloomington (kumpulan cerpen, 1950) 2. Ny. Talis (novel, 1983) 3. Olenka (novel, 1997) 4. Rafilus (novel, 1988) 5. Sejumlah Esai Sastra (kumpulan esai, 1984) 6. Solilokui (kumpulan esai, 1983) 7. Harmonium (kumpulan esai, 1996) 8. Derabat (cerpen, 1999) 9. The Legacy karya Intsi V. Himanyunga (terjemahan, 1996) 10. Sejarah 10 November 1945 (1987) 11. Culture in Surabaya (1992) 12. Modern Literature of ASEAN (2000) 13. Kumpulan Esai Sastra ASEAN (Asean Committee on Culture and Information) Beberapa karya Budi Darma yang berbentuk cerita pendek pernah ditransformasikan dalam bentuk drama, yaitu “Orez”, yang dipentaskan mahasiswa ISI Yogyakarta, dan “Kritikus Adinan”, yang dipentaskan mahasiswa STSI Bandung). Karena peranannya dalam sastra, Budi Darma mendapat hadiah dan penghargaan dari berbagai pihak. Berikut ini hadiah/penghargaan yang diterima Budi Darma. 1. Hadiah Pertama Sayembara Mengarang Naskah Roman Dewan Kesenian Jakarta atas novelnya Olenka (1980) 2. Penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta atas novelnya, Olenka, sebagai novel terbaik (1983) 3. Penghargaan Sea Write Award dari pemerintah Thailand atas karyanya yang berjudul Orang-Orang Bloomington (1984) 4. Penghargaan Anugerah Seni dari pemerintah Indonesia (1993) 5. Penghargaan dari Kompas atas cerpennya, “Derabat”, sebagai cerpen terbaik (1999) Sumber: http://www.pusatbahasa.depdiknas.go.id/
Lahir: Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 Agama: Islam Isteri: Novia Kolopaking Pendidikan: - SD, Jombang (1965) - SMP Muhammadiyah, Yogyakarta (1968) - SMA Muhammadiyah, Yogyakarta (1971) - Pondok Pesantren Modern Gontor - FE di Fakultas Filsafat UGM (tidak tamat) Karir: - Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta (1970) - Wartawan/Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta (1973-1976) - Pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta) - Pemimpin Grup musik Kyai Kanjeng - Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media Karya Seni Teater: • Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan 'Raja' Soeharto), • Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan), • Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern), • Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern). • Santri-Santri Khidhir (1990, bersama Teater Salahudin di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta 35.000 penonton di alun-alun madiun), • Lautan Jilbab (1990, dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya dan Makassar), • Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993). • Perahu Retak (1992). Buku Puisi: • “M” Frustasi (1976), • Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978), • Sajak-Sajak Cinta (1978), • Nyanyian Gelandangan (1982), • 99 Untuk Tuhanku (1983), • Suluk Pesisiran (1989), • Lautan Jilbab (1989), • Seribu Masjid Satu Jumlahnya ( 1990), • Cahaya Maha Cahaya (1991), • Sesobek Buku Harian Indonesia (1993), • Abacadabra (1994), • Syair Amaul Husna (1994) Buku Essai: • Dari Pojok Sejarah (1985), • Sastra Yang Membebaskan (1985) • Secangkir Kopi Jon Pakir (1990), • Markesot Bertutur (1993), • Markesot Bertutur Lagi (1994), • Opini Plesetan (1996), • Gerakan Punakawan (1994), • Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996), • Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994), • Slilit Sang Kiai (1991), • Sudrun Gugat (1994), • Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995), • Bola- Bola Kultural (1996), • Budaya Tanding (1995), • Titik Nadir Demokrasi (1995), • Tuhanpun Berpuasa (1996), • Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997) • Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997) • Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997), • 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998), • Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998) • Kiai Kocar Kacir (1998) • Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (1998) • Keranjang Sampah (1998) Ikrar Husnul Khatimah (1999) • Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000), • Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000), • Menelusuri Titik Keimanan (2001), • Hikmah Puasa 1 & 2 (2001), • Segitiga Cinta (2001), • “Kitab Ketentraman” (2001), • “Trilogi Kumpulan Puisi” (2001), • “Tahajjud Cinta” (2003), • “Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun” (2003), • Folklore Madura (2005), • Puasa ya Puasa (2005), • Kerajaan Indonesia (2006, kumpulan wawancara), • Kafir Liberal (2006) • Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006) Alamat Rumah: Jalan Kadipaten Wetan K-11 Yogyakarta Alamat Kantor: Dewan Kesenian Daerah Istimewa Yogyakarta [ http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/e/emha-ainun-nadjib/index.shtml]
Ia adalah kembaran Tjahjono Widijanto, lahir di Ngawi, 18 April 1969. Produktif menulis puisi dan esai di berbagai media. Juga menulis guritan (puisi berbahasa Jawa). Beberapa kali memenangi sayembara menulis, puisi-puisinya telah dibukukan, antara lain: Di Pusaran Angin (1997), Kubur Penyair (2002) dan Kitab Kelahiran (2003). Mendirikan berbagai komunitas seni budaya, seperti Studi Sastra Tanah Kapur, yang bergerak dalam wilayah seni budaya dengan aktivitas berupa kajian, penerbitan, dokumentasi, pameran, dan diskusi-diskusi kebudayaan. Ia terpilih sebagai seniman yang mendapatkan Penghargaan Gubernur Jatim 2003. Sehari-harinya juga bekerja sebagai guru di Ngawi.
Nama aslinya Tamsir Arief Subagyo (Tulungagung,1936-1997). Selain dikenal sebagai sastrawan yang produktif, juga sebagai pendiri Sanggar Sastra Triwida. Pak Tamsir pernah menjadi wartawan majalah Penyebar Semangat (PS), Redaktur Tabloid Jawa Jawa Anyar berbahasa Jawa) bersama Suparto Brata, setelah mereka urung menangani Majalah Praba (juga berbahasa Jawa) yang gagal terbit karena figur yang oleh Grup Kompas ditugasi ’menyutradarai’-nya, Arswendo Atmowiloto, mendapat masalah berkaitan dengan pembreidelan Tabloid Monitor. Tamsir juga pernah menjadi Ketua Organisasi Pengarang Sastra Jawa (OPSJ) Komisariat Jawa Timur. Sepanjang karir kepengarangannya di dunia sastra Jawa (1954-1996) ia telah menghasilkan tidak kurang dari 286 cerpen, 41 novel, 16 buku bacaan anak-anak, dan buku pelajaran SD-SMP. Ia mendapatkan Penghargaan Gubernur Jatim 2003.
Abdul Hadi WM dilahirkan di Sumenep, Madura, Jawa Timur, 24 Juni 1948 ialah salah seorang sastrawan Indonesia. Sejak kecil ia telah menyintai puisi. Penulisannya dimatangkan terutama oleh karya-karya Amir Hamzah dan Chairil Anwar, ditambah dengan dorongan orangtua, kawan, dan gurunya. Di masa kecilnya pula ia sudah berkenalan dengan bacaan-bacaan yang berat, dengan pemikir-pemikir kelas dunia seperti Plato, Sokrates, Imam Ghazali, Rabindranath Tagore, dan Muhammad Iqbal. Ia pernah menempuh pendidikan di Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada hingga tingkat sarjana muda, lalu pindah ke studi Filsafat Barat di universitas yang sama hingga tingkat doktoral, namun tidak diselesaikannya. Ia beralih ke Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran dan dalam program studi antropologi, juga tidak tamat. Akhirnya ia justru mendapatkan kesempatan studi dan mengambil gelar doktor dari Universiti Sains Malaysia di P. Penang. Hadi juga pernah menjabat sebagai redaktur kebudayaan Harian Berita Buana dan anggota Dewan Pimpinan Harian Dewan Kesenian Jakarta. Puisi-puisinya kian lama kian kuat diwarnai oleh tasawuf Islam. Kumpulan puisinya, "Meditasi", memenangkan hadiah buku puisi terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1978. Bukunya "Hamzah Fansuri, Penyair Sufi Aceh", melukiskan kecenderungan religiusnya. Pada tahun 1992, ia menerima tawaran dari Universiti Sains Malaysia di P. Penang, untuk menjadi "ahli cipta" di Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan, di sana. Posisinya sebagai "ahli cipta" di perguruan tinggi yang berlokasi di Penang, Malaysia itu membuka peluang mengikuti program doktoral di perguruan tinggi itu dalam bidang sastra. Ia kembali ke Indonesia dengan gelar doktor, dan kini Hadi menjadi dosen di Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina. Hingga kini sudah enam kumpulan puisi yang diterbitkannya. Empat buku lainnya bukan puisi. Dengan istrinya, Tedjawati, yang menjadi pelukis, ia sering terlibat diskusi soal seni. Ia juga menyukai karya Bach, Beethoven, dan The Beatles. Kumpulan puisinya: Meditasi (1976), Laut Belum Pasang (1971), Cermin (1975), Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975) , Tergantung Pada Angin (1977), Anak Laut, Anak Angin (1983)
[Sumber: Wikipedia]
 Lahir di Sidoarjo, 12 Juni 1981. Awalnya, menulis bagi saya adalah cara pelampiasan terbaik ketika sedang tidak cocok dengan majikan atau sekedar membunuh waktu luang. Selanjutnya kebiasaan itu menjadi kesenangan tersendiri, apalagi ternyata ada media yang mau menampung coretan saya. SUARA namanya. Koran berbahasa Indonesia ini terbit di Hong Kong. Cerpennya juga dimuat media yang terbit di Indonesia Sinar Harapan dan Surya. Kini sedang berancang-ancang untuk menerbitkan buku kumpulan cerpennya, Perempuan Tak Bertuan. 
   | Tanti | Oct 29, '07 12:25 PM for everyone |
 Hartanti memilih memakai nama pena: Tanti. Ia lahir di Ponorogo, 14 April 1975. Bekarja di luar negri sejak 1997 [Singapura] selama 4 tahun, dan sejak tahun tahun 2002 bekerja di Hong Kong. Perempuan asal Kota Reog ini hingga kini masih belum bersuami. Pengalaman yang paling berkesan selama menjadi TKI: Bisa belajar tentang kepenulisan dan sampai bisa mengirimkan tulisanya ke media. Dengan menjadi TKI di Hong Kong ia mengaku juga bisa belajar menjadi pekerja event organizer, menangani beberapa artis yang mengadakan konser di Hong Kong. Andai ia masih di kampung, katanya, bertemu artis paling hanya mimpi. Eh, kini malah sering jadi kenyataan. Tulisan-tulisan Tanti dipublikasikan melalui: Tabloid Apa Kabar [cerpen], Tabloid Helper [Opini], Majalah Ekspresi [Artikel], Majalah Peduli [Opini, Puisi], Suara [Dunia Kita].Buku kumcer yang memuat tulisannya: Nyanyian Imigran. Kini sedang memersiapkan sebuah buku kumpulan cerpennya Surat untuk Kang Narto. Alamat: tanti_wae@yahoo.com dan Jl. Abiyoso RT 04 RW 02, Kec. Badegan, Kab. Ponorogo, Jawa Timur.

 Tania Roos adalah nama pena dari Mamiek Sugianto, asal Kepanjen, Malang. Lahir 4 Maret 1971. Ibu dari Kharisma Nuansa Anggara Sheta dan Tities Tegar Sapto Lintang, mulai suka menulis sejak menjadi Juara 1 Lomba menulis cerpen yang diselenggarakan KJRI-HK dan Berita Indonesia (Agustus 2003). Lebih suka menulis jurnalistik setelah mengikuti pelatihan Jurnalistik yang diselenggarakan Cristian Action -Hong Kong (2004). Sejak November 2005 hingga sekarang menjadi kontributor tetap koran BI dan Intermezo di HK. Sejak Mei 2005 hingga sekarang menjadi kontributor Liputan HK untuk LIBERTY ( KABAR dari Sebrang). Pernah menjadi tamu membacakan cerpen Kabut Bukit Lok Fu di Galeri Surabaya (Desember 2005). Saat ini menghumasi NBF (Nongkrong Bareng Fans), komunitas TKI-HK yang sedang merintis mendirikan koperasi kecil untuk para BMI dan mantanya. Cerpen-cerpennya dimuat Berita Indonesia, Intermezo (HK) dan Surya (Indonesia).

 Lahir 29 September 1964. Ibu dari kelima anak ini, bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Hong Kong. Menulis dan dunia teater adalah kesukaannya. Hobi menulis telah membuatnya berhasil meraih juara Pertama Lomba puisi yang diadakan komunitas Perantau Nusantara, berkerja sama dengan milis Apresiasi-Sastra@yahoogroups.com (2005). Meraih EssoWenni Award untuk sebuah karya puisinya di bulan Juli 2005. Juara tiga dalam lomba apresiasi Puisi yang diadakan milis Apresiasi-Sastra@yahoogroups.com (2006). Karya-karyanya dimuat dalam beberapa buku antara lain: Antologi Puisi-Cerpen-Esai Sastra Pembebasan (2004), Dian Sastro For President - On/Off Book (2005), Antologi Puisi Untuk Munir (Nubuat Labirin Luka) – Sayap Baru & Aceh Working Group (2005), Kumpulan Cerpen Nyanyian Imigran – Dragon Family Publisher (2006) dan buku kumpulan cerpen "Selasar Kenangan" - AKOER (2006). Bersama enam rekan buruh migran Indonesia di Hong Kong mendirikan Komunitas Perantau Nusantara yaitu suatu komunitas yang menggeluti bidang sastra. Tulisannya banyak dimuat di media Indonesia dan Hong Kong. 
 Nera, begitulah sapaan akrapnya, Lahir di Desa Jarak, Kecamatan Siman, Ponorogo, Jatim pada Nov-1979. Pernah mempublikasikan karya: Sebuah Janji Hujan-Cerpen (Riau Post), Laki-Laki Masa Lalu-Cerpen (Tabloid Apakabar Indonesia), Sirkuit Kemelut di Mata Nungki-Cerpen (Tabloid Apakabar Indonesia), The Regala 204B (Di Buku Kumcer Orang-Orang Marjinal berjudul The Regala 204B- Gagas Media Kudus 2006) judul buku dipilih dari judul cerpen Nera Andiyanti. Kolaborasi bersama 11 nama lain yang terdiri dari beberapa penulis dan sastarawan di tanah air. Detik Setelah Itu-Puisi (di buku Anthology Empati Yogya-Pustaka Jamil 2006). Beberapa puisi di majalah AKSARA atau yang telah berganti nama IMAJIO, Apakabar Indonesia dan Ekspresi. Esai di malajah Female Readers (FR) edisi March-April terbitan Jakarta . Reportase di majalah Ekspresi dan juga majalah Islam Al-Falah terbitan Surabaya . Juara 1 lomba cipta puisi FLP-Hong Kong 2006, juara2 lomba cipta puisi Al Istiqomah-Hong Kong 2006. juara 3 lomba Apresiasi Cerpen buku Hong Kong Namaku Peri Cinta FLP-Hong Kong 2006. Saat ini aktif menjadi sekretaris 1 FLP-HK masa bakti 2007-2008. Dan kontributor tetap Tabloid Apakabar Indonesia.

 Nama lengkapnya Etik Purwani, biasa menulis pakai nama Etik Juwita, berharap orang kesleo lidah, bilang Etik Jelita (oh!). Lahir di Blitar, 14 April 1982, tertua dari banyak saudara. Bekerja di Singapura (tahun 2000-2002) setelah menamatkan sekolah di jurusan bahasa SMU 1 Talun, Blitar. Menulis karena: menulis adalah pekerjaan tersusah tapi nggak perlu jalan ke sana ke mari. Prestasi tak terlupakan di bidang menulis: dihina guru idola saya, ’’Tik, tingkatkan belajarmu. Kemampuan mengarangmu belum seberapa!’’ (padahal, karangan saya terbagus di kelas!) kelas 5 eSDe. Jingkrak-jingkrak dapat nilai 3 untuk pelajaran matematika, tapi 9 untuk bahasa Indonesia. Bersama lima perempuan penulis lainnya (Nining Indarti, Lik Kismawati, Tania Roos, Mega Vristian, dan Suyatminah Sarpani) Di Hong Kong, Etik membangun Komunitas Perantau Nusantara (Kopernus), dan kini ikut ngurusi Sekarbumi. Tulisan-tulisannya pernah dipublikasikan di SUARA (opini), Intermezo, Surya, Sinar Harapan, Jawa Pos (cerpen), Berita Indonesia []

 Wina Karnie lahir di Kota Magetan 30 April 1976 dengan nama lengkap Winarsih. Lahir dari pasangan Mohamad Karni dan Wainem. Profile dirinya pernah dimuat di Majalah Sabili, Tabloid HeLPer, dan Jawa Pos halaman International (28 Agustus 2007). Karya-karyanya mulai terpublikasi di media berbahasa Indonesia yang terbit di Hong Kong, sejak tahun 2003, seperti; Berita Indonesia, tabloid Intermezo, Apakabar, HeLPer, dan Majalah Sri Kandi. Pernah menjuarai lomba penulisan cerpen di Berita Indonesia-KJRI pada tahun 2003, aktif menjadi juri di forum-forum lomba penulisan di Hong Kong, dan terjun di Forum Lingkar Pena Wilayah Hong Kong sejak awal berdiri (2004), dan menjadi ketua FLP Hong Kong periode 2007. Tiga cerpennya masuk antologi Hong Kong Namaku Peri Cinta (LPPH, September 2005), buku antologi nonfiksi bersama Asma Nadia dkk., berjudul Galz Please don’t Cry (LPPH, Februari 2006). Buku perdana kumcernya yang berisi 12 cerpennya berjudul Perempuan di Negeri Beton diterbitkan Haniya Perss (Juni 2006). Selain pernah bekerja sebagai pramuwisma, Wina juga tercatat sebagai kontributor tetap di Tabloid Apakabar sejak 2006, bertanggung jawab pada rubric Seputar Kita. Istri AA. Syifa’I SA ini, selain aktif menulis juga pernah menggeluti bidang penyiaran di radio AM1044 (2004-2005) di acara Sahur Bareng. Aktif di dunia hiburan sejak tahun 2000, pernah menjadi figuran film layar lebar di Hong Kong, dan sejumlah drama sinetron bersambung di Hong Kong, serta iklan (TV Comercial) dan advertising, karena keterlibatannya bekerja pada sebuah modeling agency sebagai leader casting dan shooting. Pertengahan September 2007, Wina mengakiri kontrak kerjanya dan kembali ke tanah air. Ia bertekad tetap ingin jadi penulis dan jurnalis.
Kontak Wina: Website: www.winakarnie76.multiply.com Email: winakarnie@gmail.com

     | Akhudiat | Oct 29, '07 6:44 AM for everyone |
 Akhudiat lahir di Rogojampi, Banyuwangi, 5 Mei 1946. Lulus sarjana Fakultas Sosial Politik Universitas Terbuka, Jakarta, 1992. Tahun 1975 mengikuti International Writing Program, University of Iowa City, Iowa, USA. Aktif di Bengkel Muda Surabaya, Dewan Kesenian Surabaya, dan Dewan Kesenian Jawa Timur. Lima naskah dramanya memenangkan Lomba Penulisan Sandiwara Indonesia di Dewan Kesenian Jakarta: Grafito (1972), Jaka Tarub (1974), Rumah Tak Beratap (1974), Bui (1975), RE (1977). Cerpennya New York: Sesudah Tengah Malam dimuat majalah Horison Vol XIX (Oktober 1984) diterjemahkan Dede Oetomo jadi New York After Midnight, Jakarta: Executive Commite, Festifal of Indonesia (USA, 1990 – 1991), kemudian diterjemahkan pula dengan judul New York After Midnight oleh John H McGlynn, dalam Manhattan Sonnet, Jakarta: The Lontar Foundation, 2002.

 Nama aslinya Mohammad Amir Tohar, lahir di Ngawi, 22 Desember 1957. Alumnus Universitas Sebelas Maret Surakarta, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Aktif di teater, pernah menyandang gelar Aktor Terbaik Festival Drama Se-Jatim tahun 1983 ketika ia bergabung dengan Teater Persada Ngawi yang dipimpin MH Iskan. Pernah jadi pengurus harian Biro Sastra Dewan Kesenian Surabaya, Ketua HP3N (Himpunan Penulis, Pengarang, Penyair Nusantara) Jatim, Koordinator FASS (Forum Apresiasi Sastra Surabaya) dan penggagas kegiatan Malam Sastra Surabaya (Malsasa) di DKS. Mengikuti Temu Penyair Jateng di Semarang (1983), Temu Penyair Indonesia di Taman Ismail Marzuki Jakarta (1987) dan baca puisi di berbagai kota di Jatim. Karya puisinya dimuat di koran dan majalah, baik yang terbit di daerah maupun di Jakarta, seperti: Surabaya Post, Berita Buana, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Bali Post, Singgalang, Sriwijaya Post, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Zaman, Gadis, Horison, Bende, dan Basis. Buku antologi puisi (bersama karya penyair lain): Hussst, Nyenyet, Wajah Bertiga, Reportase Sunyi, Pagelaran, Malsasa 92, 94, 96, 2000, Surabaya Kotaku, Memo Putih, Tanah Kapur, Tanah Rengkah, Semangat Tanjung Perak, Kabar saka Bendulmrisi, Drona Gugat, dan banyak lagi. Kumpulan puisi sendiri: Berjamaah di Plaza, Kereta Puisi, dan Sketsa Malam. Sekarang aktif di PPSJS (Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya), Lembaga Kajian Budaya Jawa Pos, Forasamo (Forum Apresiasi Sastra Mojokerto), dan bekerja di Balai Bahasa Surabaya yang berlokasi di Sidoarjo. Alamat, Puri Mojobaru, Canggu, Kecamatan Jetis, Mojokerto.

 Andang Chatib Yusuf adalah seorang pensiunan guru, lahir di Banyuwangi, 19 September 1934. Ia adalah anggota Dewan Kesenian Blambangan, penyair/penulis lirik lagu-lagu daerah Using Banyuwangi. Alamat: Jl Musi 37, RT IV/I Penganjuran, Banyuwangi.

 Lahir di Blitar, 27 September 1962. Aktivitas kesenian diperoleh secara otodidak. Sejak tahun 1977 hidup dalam keluarga dan lingkungan yang sangat lekat dengan dunia politik. Hingga kini, karya-karya puisinya adalah alat potret dari kegelisahan teristimewa dalam kesaksian subyektif terhadap iklim politik yang disentuhnya. Ruh Istana Gebang (tempat kediaman keluarga Bung Karno di Blitar) bagaikan oase yang ditemukan dalam pengembaraan di dunia idea. Karya-karya puisi terkumpul dalam antologi mini antara lain : Suminten Gugat, 1994; Menyibak Tabir, 1995; Puisi Sejinah, 1996 dan Potret Salah Cetak, 2003. Tahun 1994, Tergabung dalam Barisan Seniman Muda Blitar (BSMB). Tahun 1996, Mendirikan sanggar budaya Padepokan Lemah Wingit. Tahun 2000, Menjadi piranti Dewan Kesenian Kota Blitar. Tahun 2002, Bersama kawan-kawan membentuk Komunitas Perkusi dan Musikalisasi Puisi “Blank-blenk”

| |